70 Persen Orang Terinfeksi Corona Tanpa Gejala dan Bisa Tularkan Virus

23
Ilustrasi rumah sakit, layanan kesehatan dasar disarankan dipisahkan dengan penanganan pasien Covid-19, baik yang ODP maupun PDP. (SHUTTERSTOCK)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “70 Persen Orang Terinfeksi Corona Tanpa Gejala dan Bisa Tularkan Virus”, https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/07/103258323/70-persen-orang-terinfeksi-corona-tanpa-gejala-dan-bisa-tularkan-virus#utm_source=kompas.com&utm_medium=kgnotif&utm_campaign=kompascom&message_id=a9caa85b-f6b6-49e7-b558-b29b32c62001&received_count=1. Penulis : Gloria Setyvani Putri | Editor : Gloria Setyvani Putri

Jakarta – Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto mengatakan, 70 persen individu yang positif tertular Covid-19 tidak merasakan gejala gangguan kesehatan.

Yuri mengimbau masyarakat lebih berhati-hati dengan kondisi ini.

“Hati-hati, sekarang gambaran yang terbanyak hampir sekitar di atas 60 persen atau ada yang mengatakan sampai 70 persen penderita positif Covid-19 ini tanpa gejala atau kita sudah mengenal dengan sebutan OTG yakni orang tanpa gangguan,” ujar Yuri dalam konferensi pers di Graha BNPB, Senin (6/4/2020).

Yuri menjelaskan, individu tersebut bisa saja merasa tidak sakit karena tidak merasakan gangguan apa pun pada tubuhnya.

“Atau bahkan dengan gangguan minimal, karenanya disebut tanpa gejala. Itu kemudian bisa menjadi potensi untuk terjadinya sumber penyebaran baru,” lanjutnya.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, bagaimana bisa orang yang terinfeksi Covid-19 dan tidak merasakan apapun menularkan virus ke orang lain?

Salah satu kekhawatiran utama seputar virus corona baru yang menyebabkan Covid-19 adalah virus ini lebih mudah menyebar. Padahal di seluruh dunia, tidak hanya Indonesia, negara-negara lebih fokus mengisolasi pasien yang menunjukkan gejala.

Baca Juga :  Boni Hargens: Kampanye Hitam Tiga Emak-emak di Karawang Berbahaya bagi Integritas Pemilu 2019

Di sisi lain, beberapa studi menunjukkan bahwa orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 tapi hanya menunjukkan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali dapat membantu menyebarkan virus.

Dalam studi yang terbit pertengahan Maret lalu dijelaskan bahwa sekitar 80 persen kasus Covid-19 hanya menunjukkan gehala yang ringan.

Diakui ahli paru Joseph Khabbaza, MD, ini adalah masalah rumit,

“Terkadang gejala yang muncul tidak spesifik dalam dua minggu,” kata Joseph.

Dia menjelaskan, gejala tak spesifik itu bisa seperti demam, sakit tenggorokan, batuk, dan diare. Di mana gejala tersebut pun dapat mengindikasikan penyakit lain yang lebih umum seperti flu dan pilek.

Hasil rontgen memperlihatkan paru-paru pasien bersih setelah sel-sel imun berperang melawan virus corona. Foto kiri pada hari kelima perawatan, foto kanan pada hari ke-10.()

Karena hal ini pula, kebanyakan orang tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi virus SARS-CoV-2 dan dapat menularkan Covid-19 ke orang lain.

Untuk saat ini, mengetahui apakah kita terinfeksi Covid-19 atau tidak hanya dapat dilakukan dengan tes uji laboratorium.

Penyebaran virus di China

Sebuah studi melihat kembali bagaimana penyebaran Covid-19 di masa-masa awal yang terjadi di China.

Dari studi itu, mereka menemukan bahwa orang yang tertular virus tapi hanya menunjukkan gejala ringan tetap dapat memicu penyebaran.

Dilansir Cleveland Clinic, Sabtu (4/4/2020), studi tersebut menggunakan model simulasi matematika terkait penyebaran awal Covid-19 di ratusan kota di China.

Baca Juga :  PT.FSI (Distributor Alkes) Diduga Kuat Melakukan Pembohongan Publik

Para peneliti menyimpulkan bahwa 86 persen infeksi yang terjadi sebelum 23 Januari 2020 tidak didokumentasikan. Di tanggal tersebut adalah saat ketika Centers for Disease Control (CDC) AS mengeluarkan peringatan perjalanan ke Wuhan, China.

Karena ada begitu banyak kasus yang tidak terdokumentasikan menunjukkan gejala ringan atau tidak ada gejala sama sekali, penelitian mengklaim bahwa pembawa virus tanpa gejala itu berisiko menyebarkan virus corona lebih besar dari yang seharusnya terjadi.

“Infeksi yang tidak terdokumentasikan adalah sumber infeksi untuk 79 persen dari kasus yang dilaporkan,” tulis kesimpulan penelitian tersebut.

Dengan kata lain, ada begitu banyak orang yang merupakan “hantu” pembawa virus,

Yang dimaksud “hantu” pembawa virus adalah mereka yang memiliki virus tapi tidak menyadarinya dan kemungkinan yang menyebabkan virus makin menyebar.

Kasus Covid-19 tanpa gejala

Sebuah studi dari Jepang menyoroti jumlah pembawa Covid-19 yang tidak menunjukkan gejala.

Salah satu penelitian fokus mengamati kapal pesiar Diamond Princess yang menepi dan akhirnya di Jepang pada awal Februari 2020 ketika diketahui seorang penumpang dinyatakan positif virus.

Studi itu menemukan, dari 3.063 penumpang yang dites, 634 di antaranya hasilnya positif Covid-19 dan harus dikarantina.

Baca Juga :  Terpilihnya Macron Diharapkan Pererat Hubungan Perancis-RI

Diperkirakan sekitar 17,9 persen dari pasien positif itu tidak menunjukkan gejala.

Pentingnya tinggal di rumah

Ilustrasi: isolasi mandiri, karantina mandiri, corona, covid-19 (Shutterstock)

Dari studi-studi tersebut, Dr. Khabbaza mengatakan bahwa sangat penting untuk mengikuti instruksi pemerintah dan lembaga medis untuk di rumah saja dan jaga jarak dengan orang lain minimal dua meter.

Karena begitu banyak kasus yang tidak menunjukkan gejala atau minim gejala, sulit untuk mengetahui berapa banyak orang yang benar-benar membawa virus.

Fakta ini membuat tindakan pencegahan semakin penting dilakukan dan harus dilakukan.

Droplet atau percikan yang keluar saat batuk, bersin, dan berbicara bisa sampai 1,8 meter. Untuk itu, penting untuk menjaga jarak dengan orang lain demi menghindari penularan virus melalui droplet.

Itulah sebabnya pemerintah Indonesia sekarang merekomendasikan untuk mengenakan masker dari kain saat pergi keluar rumah, terutama di tempat-tempat yang sulit berjarak dengan orang lain setidaknya dua meter.

Masker kain direkomendasikan karena seperti dijelaskan di atas, orang dengan Covid-19 yang tidak menyadari terinfeksi karena tidak memiliki gejala masih dapat menyebarkan virus ke orang lain.

Pemerintah mengimbau semua orang memakai masker kain. Sementara masker bedah dan N95 hanya diperuntukkan bagi pasien Covid-19 dan tenaga medis.