Golput Sangat Menghantui Kedua Kandidat pada Pilpres 2019

9
Hasanuddin Ali di acara diskusi publik bertajuk ‘Analisis Hasil Survei: Mengapa Bisa Beda?’ pada Selasa (26/3/2019) di Menteng, Jakarta Pusat. (dok. wartakota.tribunnews.com)

[Lembaga Pemilih Indonesia- Jakarta] CEO ALVARA RESEACH CENTER Hasanuddin Ali mengatakan untuk melihat benar atau tidaknya suatu hasil survei maka lihat status sesuai dengan komposisi populasi penduduk di Indonesia. Ketika komposisi demografi bergeser sedikit saja dari populasi, maka hasilnya pasti akan berbeda dengan populasi.

“Trik yang saya lakukan adalah pertama kali cek profil demografi responden. Apakah komposisi gender, usia, ekonomi status sesuai dengan komposisi populasi penduduk di Indonesia serta agama, tingkat pendidikan dan lain-lain,” beber Hasanuddin Ali di acara diskusi publik bertajuk ‘Analisis Hasil Survei: Mengapa Bisa Beda?’ pada Selasa (26/3/2019) di Menteng, Jakarta Pusat.

“Saya contohkan, misalnya komposisi tingkat pendidikan mayoritas masyarakat SMA ke bawah, tapi lembaga survei pakai data pendidikan mayoritas adalah S1/sarjana. Maka hasilnya akan berbeda,” jelas Hasanuddin Ali.

Menurut Hasanuddin Ali, perbedaam hasil survei juga bisa dilihat dari area sampling yang berbeda. Ini juga memungkinkan hasilnya juga akan berbeda. Selain itu, tingkat golput juga mempengaruhi hasil elektabilitas kandidat di pemilihan umum.

Baca Juga :  Boni Hargens Laporkan 300 Akun Media Sosial ke Mabes Polri

“Selain itu, tingkat golput juga mempengaruhi hasil elektabilitas kandidat di pemilihan umum. Dengan memakai analogi data pada tahun 2014, jika tingkat golput tinggi justru ada pada pasangan Jokowi-Maruf,” jelas Ali.

Hasanuddin Ali sebut tiga jenis golput yakni golput ideologis, yang secara sadar mereka tidak pmenggunakan hak pilihnya karena melihat dua kandidat ini tidak sesuai ekspektasinya. Golput teknis, yang secara teknis tidak ingin mengurus administrasi. Golput apatis, karena mereka tidak tertarik proses politik yang ada.

“Masing-masing kandidat masih dihantui golput. 01 dihantui golput ideologis, 02 dihantui golput apatis. Jadi masing-masing kandidat dihantui golput dengan jenis dan tipenya masing-masing,” imbuh Ali.