Diresmikan Wakil Presiden Jusuf Kalla Hari Ini, Ini Keunggulan Jembatan ‘Pelangi’ Antapani

188
Wakil Presiden RI Jusuf Kalla.

Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono rencananya akan meresmikan Jembatan Layang ‘Pelangi’ Antapani, Selasa (24/1/2017).

Pembangunan jembatan layang yang menghubungkan kawasan Antapani (Jalan Terusan Jakarta) dengan Jalan Jakarta ini dimulai pada 10 Juni 2015 lalu. Kala itu, peletakan batu pertama dilakukan oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Proses pembangunan memakan waktu cukup singkat, yakni selama 6 bulan. Sebelum digunakan pada 1 Januari 2017 lalu, jembatan layang tersebut telah melalui tes uji coba lalu lintas pada 28 Desember 2016 dan serangkaian tes lainnya.

Jembatan layang Antapani ini merupakan merupakan pilot project teknologi Corrugated Mortarbusa Pusjatan (CMP) yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia.

Baja struktur yang digunakan di jembatan layang Antapani ini berbentuk corrugated atau armco dengan tiga jumlah bentang. Panjang untuk bentang tengah adalah 22 meter dengan tinggi ruang bebas vertikal 5,1 meter dan lebar bentang lainnya (u-turn) adalah 9 meter.

CMP adalah teknologi yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Balitbang Kementerian PUPR. Teknologi ini merupakan pengembangan teknologi timbunan ringan mortar busa dengan struktur baja bergelombang.

Baca Juga :  Presiden Mukherjee dan PM Modi Sambut Presiden Jokowi Dengan Upacara Kenegaraan

Kelebihan CMP adalah masa konstruksi yang lebih cepat 50 persen. Jika dibandingkan untuk konstruksi beton umumnya memakan waktu 12 bulan, sementara CMP hanya memerlukan 6 bulan.

Kelebihan lainnya adalah bentangan konstruksi jembatan yang panjang dimana lengkungan jembatan dapat mencapai 36 meter sehingga mampu mengakomodir hingga 8 lajur kendaraan di bawah jembatan.

Pelaksanaan konstruksi CMP juga tidak mengharuskan penutupan jalur kendaraan, sehingga memberikan dampak yang sangat kecil terhadap kemacetan di sekitar lokasi konstruksi. CMP memiliki nilai estetis, sehingga dapat menjadi suatu landmark kawasan. Konsumsi bahan alam dalam konstruksi CMP jauh lebih rendah dibandingkan konstruksi dengan teknologi beton sehingga ramah lingkungan.

Teknologi mortar busa ini digunakan sebagai pengganti timbunan tanah atau sub base yang biasanya dipakai tanpa memerlukan lahan yang lebar karena dapat dibangun tegak dan tidak memerlukan dinding penahan serta tidak perlu alat pemadat karena dapat memadat dengan sendirinya.

Penggunaan baja bergelombang, selain mempercepat waktu pelaksanaan jembatan layang juga lebih efisien secara pembiayaan. Biasanya, untuk membuat satu buah jembatan dengan beton bertulang, membutuhkan biaya sekitar Rp 120 miliar. Tetapi, untuk pembuatan overpass dengan struktur baja bergelombang dan timbunan ringan mortar busa, hanya membutuhkan anggaran Rp 35 miliar.

Baca Juga :  Subsidi Listrik Dialihkan Untuk 2.500 Desa Tertinggal

Pembangunan jembatan layang Antapani merupakan proyek kerjasama antara Pusjatan Kementerian PUPR, Pemerintah Kota Bandung dan Pemerintah Korea. Dari anggaran Rp 35 miliar yang dibutuhkan untuk pembangunan Overpass Antapani, komposisi pembiayaan terdiri Rp 22 miliar berasal dari Pusjatan Kementerian PUPR, Rp 10 miliar dari Pemerintah Kota Bandung dan Rp 3 miliar dari Pemerintah Korea dalam bentuk komponen material.

Pembangunan jembatan layang ini bertujuan untuk mengatasi kemacetan yang setiap hari terjadi di persimpangan Jalan Antapani dan Jalan Terusan Jakarta, terlebih pada jam sibuk pagi dan sore hari serta akhir pekan.

Pantauan detikcom pukul 07.30 WIB persiapan peresmian sudah dilakukan. Jembatan Layang ‘Pelangi’ Antapani dijadwalkan ditutup hingga pukul 12.00 WIB. Kepadatan kendaraan terjadi di sekitar jembatan akibat adanya penutupan ini.
(avi/ern/https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3403680/diresmikan-wapres-jk-hari-ini-ini-keunggulan-jembatan-pelangi-antapani?_ga=1.17048889.1663707719.1479876260).