“Lonto Ata Ngo Long, Ngo Long Ata Lonto,” Doing Koe O Mose

592
Boni hargens
Boni hargens

Doing koe ga, doing koe go mose ge. O e mose dokong lino hoo, doing koe go mose ge. Ai makit len mose ge, e wa oke lau longka longka taungs, doing koe go mose ge.

Jakarta – Itu adalah sebait kidung Dere Serani (Buku lagu rohani khatolik) ciptaan Filipus Manti, yang pada intinya mengajak umat manusia untuk sadar bahwa hidup di dunia ini hanya untuk sementara. Bait ini dinyanyikan lagi dalam diskusi kebudayaan “Neka Okes Kuni Agu Kalo” pada hari Sabtu (15/08/2015), di Anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah.

Suara nyanyian sanda dan mbata pun membahana. Pria dan wanita mengenakan pakaian adat, duduk melingkar melantunkan beberapa syair Manggarai.  Bunyi tabuhan gong dan gendang semakin mempercantik warna suara. Tubuh mereka  ikut bergoyang sesuai irama. Tarian dan nyanyian itu mengantar para hadirin pada acara inti hari itu: seminar kebudayaan. Hadir sebagai pembicara, Robert Lawang, Peter Aman, Frans Borgias, Darmin Mbula, Edi Danggur, Boni Hargens. Seminar ini unik, menggunakan bahasa manggarai, juga campuran Bahasa Manggarai dan Indonesia.

Lantunan lagu Doing Koe Ga, seolah menceritakan sesuatu yang kurang beres di Manggarai. Entahlah. Tapi sesuatu yang pasti, telah terjadi bertahun-tahun dan menjadi pandangan aneh adalah “lonto ata ngo long, ngo long ata lonto,” kata Rm Peter Aman OFM. Banyak orang dari luar Manggarai yang sukses, tapi orang Manggarai sendiri malah memilih merantau ke Malaysia.

Menurut Peter, hal demikian terjadi karena pemerintah daerah dan gereja tidak lagi berpihak kepada umat. Bahkan, gereja yang seharus berperan menjaga moral, justru ikut terperosok dalam perselingkuhan jahat yang menghancurkan bumi Manggarai.

Baca Juga :  Kotak Pandora RUU Terorisme

“Gereja menyibukan diri pada urusan organisasi, mengabaikan kebutuhan umat. Misi dan dimensi profetis gereja sudah hilang. Seharusnya gereja berperan menjaga moral, malah gereja sendiri jatuh dalam perselingkuhan politik,”kata Peter.

Menurut Frans Borgias, terlepas dari peran gereja yang sedikit memudar, gereja telah berjasa membawa perubahan melalui para misionari zaman dahulu. Tokoh seperti Wilhelmus van Bekkum dan Frans Born telah berjasa dalam politik etis yang membawa perubahan pada bumi manggarai. Salah satu prestasi cemerlang dan gemilang gereja Katolik Manggarai ialah menerbitkan buku Dere Serani pada tahun 1960-an. Menurut Frans, buku ini merupakan bagian yang utuh dari gerakan inkulturasi Manggarai. “Karena itu, buku ini merupakan bagian utuh dari proses pembelajaran tata waktu dalam dan menurut dunia baru yang dibawa kristianitas”.

Boni Hargens menjelaskan, gereja tidak sepenuhnya bersalah terhadap krisis di Manggarai. Sejak Gereja mengakar di Flores, kata Boni, praktis segala bentuk pembangunan dilakukan oleh gereja, antara lain melalui pembangunan ekonomi, pendidikan, pembangunan sosial-budaya, bahkan pembangunan kesadaran politik. Boni mengatakan, gereja memperkenalkan nilai-nilai demokrasi melalui misi eklesial yang mereka bangun dari ujung timur sampai barat pulau Flores. Akan tetapi, lanjut Boni, penekanan gereja tentu bukan pendidikan kewargaan, karena itu adalah tugas Negara dan masyarakat sipil sekuler.

“Fakta bahwa gereja berpartisipasi di dalam membangun kesadaran politik masyarakat merupakan bagian dari konsekuensi positif ajaran sosial gereja. Meski demikian, penekanan gereja tentu pada ranah pengembangan manusia melalui pendidikan dan keagamaan.”

Baca Juga :  Catatan Kinerja Kabinet Kerja

Menurut Boni, persoalan utama sebenarnya adalah ada segelintir orang yang mengatur politik di daerah: bosisme lokal. Walaupun wajah bupati berganti, yang menang adalah org yang sama. Mereka-mereka itu adalah Tuang pelitik (partai politik), ata bora (orang kaya), preman, tuang pegawe (birokrat yang mengotrol pegawai). “Mereka-mereka ini diatur oleh segelitir orang kuat yang beruang. Pemda seharus berpihak kepada warga. Namun, gereja juga harus terlibat dalam pembangunan sosial. Gereja harus berperan dalam pengambilan kebijakan publik dalam konteks lokal”.

Sebagai contoh di Manggarai Barat, sekelompok preman yang bertindak di bawah tanah melakukan terror terhadap kelompok masyarakat sipil yang menentang kebijakan pemerintah bupati Fidelis Pranda (2004-2009). Pastor Marsel Agot, SVD, seorang tokoh masyarakat yang terdepan dalam gerakan anti tambang di kawasan wisata Komodo, sering diteror. Menariknya, kelompok preman ini tidak berani bertindak lebih dari sekedar terror. Mereka tidak membunuh atau melakukan penganiayaan fisik. “Kami disuruh untuk memberikan tekanan, sekaligus membuktikan bahwa bupati juga adalah orang kuat yang tidak mudah diserang”, kata Boni. Boni mengatakan, itu hanya contoh kecil dan bentuk paling halus dari tindakan yang lumrah dilakukan para bos lokal.

“Musuh kita bukan gereja atau bupati, tapi sistem.Saya bangga dengan proses humanisme gereja. Gereja adalah flores, flores adalah gereja. Gereja tidak melulu salah. Mengapa kita tidak menyalahkan pemerintah, bupati misalnya.”

Dalam bidang hukum, pengacara Edi Danggur mengatakan, hakim sering mencari gampang dengan mengutamakan hukum positif, hukum yang tertulis, dibandingkan dengan hukum adat. Lebih parahnya lagi,masyarakat manggarai telah mulai meninggalkan hukum adat. Padahal, kata Edi, hukum nasional memberi ruang yang cukup luas bagi berlakunya hukum adat. Menurut Edi, ke depannya masyarakat Manggarai harus mengangkat kembali hukum adat ke permukaan.

Baca Juga :  Partai IDAMAN Dirugikan Pileg 2014 Jadi Syarat Capres 2019 ?

Menurut Pater Darmin Mbula OFM, salah satu jalan keluar dari masalah di Manggarai saat ini adalah proses penyadaran melalui pendidikan. Namun persolannya, pendidikandi Manggarai tidak membuat orang semakin bersaudara dengan alam sekitar melainkan semakin terasing. “Terjadi krisis kemanusiaan dan krisis lingkungan hidup. Artinya, krisis kebudayaan ada kaitan dengan krisis kemanusian dan krisis pendidikan”, kata Darmin.

Darmin menilai sekolah-sekolah berkualitas, seperti seminari di Manggarai sangat mahal. Telah terjadi kapitalisasi pendidikan. Sekolah-sekolah Katolik tidak dikelola dengan baik. Buku-buku bacaan kebanyakan produk luar. “Secara tidak langsung, ini adalah proses pembodohan”.  Sehingga, lanjut Darmin, tidak heran jika kehidupan orang Manggarai mulai tercabut dari akarnya. Sebab, pendidikan yang diberikan tidak berbasis budaya. Matapelajaran muatan lokal tidak digunakan untuk mengajar kearifan lokal, malah diisi dengan pelajaran bahasa inggris. Padahal, seharusnyadalam ruang kelas menjelaskan budaya dan kearifan lokal Manggarai secara detail.

“Sekolah seharusnya mengajarkan murid bahwa semua yang ada di dalam merupakan bagian dari alam. Tidak berdiri sendiri. Model pendidikan yang ideal adalah model pedagogic, berbasis budaya. Ini penting agar orang tidak tercabut dari akarnya. Pendidikan kita akan kehilangan rohnya, hilang semangatnya jika tidak berbasis budaya”. (Alfeus Jebabun/Pulaubunga.com)