Soetan Bathoegana, Artha Meris, Febri & Boy Tohir

70

Mantan Ketua SKK Migas, Rudi Rubiandini membuka lembaran baru kasus suap yang melibatkan dirinya dengan Kernel Oil (Singapura). Komisi Pemberantasan telah menetapkan beberapa nama sebagai tersangka dalam dugaan suap yang melibatkan berbagai kalangan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), termasuk politisi di senayan. Kemarin (14/5), KPK, menetapkan Sutan Bathoegana, Ketua Komisi VII (Partai Demokrat), sebagai tersangka. Chief Executive Officer (CEO), PT Kaltim Parna Industri, Artha Meris Simbolon adalah tersangka baru dalam kasus ini. Pertanyaannya kemudian adalah siapa yang berikutnya?

Artha Meris Simbolon; KPK telah menyebutkan nama perempuan COE PT Kaltim Prima Industri ini. Perusahaan ini adalah sebuah produsen ammonia, yang berlokasi di Bontang, Kalimantan Timur. Ia diduga terlibat dalam kasus ini. Nama Artha disebutkan pertama kali oleh Deviardi, pelatih golf dari Rudi Rubiandini, di pengadilan. Artha Meris adalah saudara dari Merihad Simbolon, pendiri Parna Raya Group. Artha diduga melanggar pasal pasal 5 paragraf 1a atau artikel 13 tentang tindak krimal korupsi.

Baca Juga :  Golkar Bantah Lakukan Politik Transaksional Saat Voting Angket Pajak

Jaksa penutut KPK awalnya mengatakan Rudi menerima suap dari Artha Meris melalui Deviardi sebesar US$522.500 agar mengubah formula harga gas dari pembangkit ammonia milik Parna Industri. Awalnya Artha Meris menyangkal dugaan itu.

Soetan Bhatoegana; Sutan adalah Ketua Komisi VII, patner kerja kementerian ESDM dan SKK Migas. Menyedihkan, Soetan menjadi tersangka KPK, setelah mendapat konfirmasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), sebagai salah satu calon anggota DPR yang tidak terpilih pada pemilu legislatif 9 april, 2014. KPK menyebutkan korupsi yang melibatkan dirinya terkait dengan evaluasi anggaran 2013 untuk kementerian ESDM.

Jaksa penel mengatakan, pada tanggal 29 April, Rudi memberi uang senilai US$200.000 untuk Soetan. Sumber dana berasal dari Simon Gunawan Tanjaya, eksekutif perusahaan trading minyak, Kernel Oil Pty Ltd, melalui Deviardi. Di pengadilan Deviardi mengaku sumber dana berasal dari Febri Prestyadi Saputra, konsultan Panca Amara Utama.

Panca Amara Utama adalah anak usaha PT Surya Essa Perkasa dan sebelumnya menjadi asisten dari Presiden Direktur, PT Adaro Indonesia, Boy Garibaldy Tohir. Boy adalah juga COE Surya Essa Perkasa. PT Panca Amara Utama membangun US$750 juta pembangkit ammonia di propinsi Sulawesi Tengah.

Baca Juga :  Doa Bersama Lintas Agama di Mimika

Kita masih mencermati apakah KPK akan menginvestigasi pengatur supply gas dari PT Panca Amara Utama dan seperti apa mereka mengatur itu di PT Kaltim Parna Industri?

Masih segara tentu dalam ingatan publik tentang relasi ringkasan testimoni Deviardi dan Rudi Rubiandini, tentang relasi mereka dengan Febri.

Deviardi mengatakan diinformasikan Rudi bahwa Febri adalah orang kepercayaan Boy Tohir (CEO Adaro Energi dan PT Surya Essa Perkasa). Ia diperintahkan Rudi bertemu Rudi di Singapura. Deviardi kemudian menginformasikan ke Rudi bahwa ia menerima uang senilai US$700.000 dari Febri.

Rudi juga mengatakan, ia menyuruh Deviardi ke Singapura bertemua Febri. Rudi menginformasikan relasi Febri dengan PT Panca Amara Utama (anak usaha Surya Esa Perkasa) yang diisukan akan diatur Rudi untuk supply gas.

Dua testimoni di atas membutuhkan kejelihan KPK untuk menginvestigasi secara detail terkait pengaturan supply gas.

Sayangnya, jaksa penuntut KPK mengabaikan fakta pengiriman uang, sehingga Febri dan Boy Tohir, merasa lega. Jaksa juga percaya dengan argumen Febri bahwa dirinya tidak pernah meminta tender gas di SKK Migas. Semua fakta itu akan terbongkar ke depan, tergantung dari intensitas pemeriksaan kasus ini,, secara khusus berbicara tentang pengaturan supply gas untuk PT Panca Amara Utama. Semua paham bahwa Boy adalah salah satu pengusaha yang sangat dekat dengan Presiden SBY dan Partai Demokrat. (Tim Riset BHC)

Baca Juga :  Minta Maaf, Pemerintah Malaysia Ganti Buku Panduan Yang Salah Cetak Bendera Merah Putih