Para Pemain Elpiji, Siapa Mereka?

526

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan beberapa Menteri Kabinet Bersatu II serta DPR ramai-ramai memprotes kebijakan Pertamina menaikan harga elpiji 12 kg, dari harga Rp 70.200 per tabung menjadi  Rp 117.708. Namun, pemerintah dan DPR gagal menangkap gambaran besar, siapa yang menikmati keuntungan besar dari supply elpiji ke Pertamina.

Produksi elpiji dari Pertamina sendiri hanya mencapai 20 % untuk konsumsi nasional. Dalam kaitan dengan kontroversi inilah, publik perlu memahami siapa-siapa pemain elpijinasional.

Produsen elpijinasional paling besar adalah PT Pertamina, ConocoPhillips dan Hess Corporation. Namun, di luar perusahaan-perusahaan besar yang sudah dikenal publik luas, masih ada perusahaan-perusahaan privat.

Di balik perusahaan-perusahaan besar itu, mungkin saja mereka memiliki koneksi dan jaringan politik kuat dengan Pertamina dan Presiden SBY.

Titis Sampoerna

Perusahaan ini memproses 36 MMSCFD gas di Limau Timur,Sumatera Selatan. Titis memproduksi 200 ton ELPIJI dan 1500 barel condesant per hari.

Titis Sampoerna memiliki beberapa nama yang cukup dikenal luas di kalangan bisnis: I Ketut Sugita, Kadek Sarjdana,  Cokorda  Adnyana dan I Nyoman Widana. Nama-nama itu mengisi jabatan direktur dan komisaris perusahaan. Nama-nama itu boleh dibilang adalah pebisnis dari Bali.

Baca Juga :  Hari Ini 711 Anggota MPR 2019-2024 Resmi Dilantik

Surya Esa Perkasa

Surya Esa memproduksi 61.000 ton per tahun elpiji. Dua tahun terakhir perusahan ini mendapat lepiji dari Sumatera Selatan. Perusahaan ini dalam 9 bulan pertama tahun 2013 mampu menghasilkan penjualan sebesar US$30.9 juta dan laba kotor US$19.7 juta.

Nama-nama dalam perusahaan ini tak asing lagi. Mereka adalah Boy Garibaldi Tohir dan Teddy P. Rahmat. Dua sosok ini sangat dekat dengan pemerintahaan Susilo Bambang Yudhoyono. Teddy adalah anggota Tim 17, tim yang meyeleksi peserta konvensi Partai Demokrat.

Odira Energy Persada

Perusahaan ini mengoperasikan 150 juta per hari elpiji di Babelan, Bekasi, Jawa Barat atau sekitar 54.000 ton per tahun. (Tim Riset BHC)