[BHC-Jakarta] Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menyebut penghinaan atas fisik atau yang dikenal dengan body shaming yang kini lebih banyak ditemukan di dunia maya didorong untuk dapat dituntaskan di luar jalur pengadilan.

“Banyak pola pendekatan penyelesaian di luar pengadilan. Kami mediasi dan tidak naik ke proses penyidikan, tetapi kalau ngotot polisi profesional,” sebut Dedi Prasetyo di Jakarta, Kamis 13 September 2019.

Penghinaan yang dilakukan oleh individu yang ditujukan ke individu lain sebagai salah satu bentuk kejahatan siber, dan hal ini kata Dedi mengalami peningkatan.

Disisi lain penghinaan atas fisik seseorang yang sebelumnya banyak dilakukan secara langsung kini mengalami perubahan tren, yakni melalui media sosial.

Sesuai data, dari Januari hingga Agustus 2019, tercatat sebanyak 22 kasus terkait penghinaan berbau SARA, dan telah ditangani Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri serta jajaran polda.

Sedangkan fisik yang kerap menjadi objek hinaan diantaranya seputar warna kulit serta bentuk wajah.

“Dulu pasal KUHP sekarang beralih ke sarana IT untuk melakukan penghinaan,” ucap Dedi.

Sedangkan menurut catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), di tahun 2018, pihaknya telah menerima laporan kasus perundungan di dunia maya atau cyber bullying sebanyak 206 kasus, termasuk di antaranya penghinaan fisik.

Kasus itu terjadi di kalangan siswa, sejalan dengan tingginya pemakaian internet dan media sosial.

Jumlah tersebut meningkat sejak 2015, sedangkan sebelum tahun 2015 tidak ada satu pun laporan perundungan di dunia maya.

LEAVE A REPLY