[BHC-Jakarta] Kepala Seksi Intelijen dan juru bicara Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto Nugroho Wisnu, mengatakan pihaknya tengah mencari rumah sakit yang bersedia mengesekusi pidana kebiri kimia terhadap terpidana pemerkosa anak. Seperti sesuai putusan pengadilan tingkat pertama dan banding, pelaku, M. Aris, 20 tahun, dijatuhi hukuman penjara selama 12 tahun dan denda Rp 100 juta subsider enam bulan pidana kurungan setelah dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pemerkosaan terhadap sembilan anak di Mojokerto. Selain Aris juga dikenakan pidana tambahan berupa kebiri kimia.

“Eksekusi kebiri kimia sedang dilakukan perencanaannya. Saat ini kami belum menemukan RS yang bersedia melakukan tindakan kebiri kimia,” ulas Nugroho Wisnu di Mojokerto, Sabtu, 24 Agustus 2019.

Nugroho ngasih info rumah sakit pemerintah yang berlokasi di Kabupaten Mojokerto belum bersedia dan belum pernah melakukan kebiri kimia seperti RSUD dr Soekandar dan RSUD R.A. Basuni.

Hukuman tambahan tersebut sebagai kali pertama yang dikenakan pada pelaku pemerkosa anak ini di Mojokerto.

“Di Mojokerto baru kali ini, kalau di Indonesia bukan ranah kami untuk menjawab,” ungkap Nugroho.

Sebelumnya diberitakan Media, Mejelis Hakim telah menjatuhkan vonis atas Aris yang terbukti bersalah telah melanggar pasal 76 D juncto pasal 81 ayat 2. Pada vonis 18 Juli 2019, Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya menguatkan putusan Pengadilan Negeri Mojokerto dan terdakwa menerima putusan banding tersebut sehingga sudah incracht.

Aris yang berasal dari Desa Sooko dan berprofesi sebagai tukang las. Sesuai hasil penyelidikan polisi atas laporan warga, sejak tahun 2015 hingga 2018, diketahui telah membujuk, memaksa, dan memerkosa sembilan anak. Aris ditangkap 26 Oktober 2018 setelah aksi terakhirnya terekam kamera pemantau CCTV di salah satu perumahan.

Vonis pidana penjara yang dijatuhkan majelis hakim lebih ringan lima tahun dari tuntutan jaksa yang menuntut terdakwa dipidana penjara 17 tahun dan denda Rp100 juta subsider enam bulan pidana kurungan. Tetapi kemudian hakim memberi pidana tambahan yang cukup berat dan tidak ada dalam tuntutan jaksa yakni hukuman kebiri kimia.

LEAVE A REPLY