[BHC-Jakarta] Aksi protes terhadap tindakan persekusi dan rasisme yang dilakukan oleh organisasi masyarakat (Ormas) dan oknum aparat, terhadap mahasiswa Papua, di Malang, Surabaya dan Semarang berujung kericuhan di Papua dan Papua Barat.

Guru Besar Emeritus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Franz Magnis atau yang akrab disapa Romo Magnis, meminta agar penyelesaian masalah tersebut dapat ditempuh dengan dialog terbuka bersama semua pihak. Sehingga semua persoalan bisa diselesaikan termasuk dugaan pelanggaran HAM.

“Jadi suatu dialog di mana pihak-pihak, baik Papua dengan sini mencari secara terbuka. Tentu ada pemecahan, ada banyak orang Papua yang mengerti itu semua dan akan bersedia,” kata Romo Magnis.

Menurut Romo Magnis, penyelesaian masalah Papua dengan dialog terbuka mampu diterima seluruh pihak. Dalam penyelesaian masalah ini Romo Magnis menegaskan untuk tidak melakukan pendekatan senjata. Sebab, pendekatan bukan sebuah solusi.

“Hentikan pendekatan bersenjata. Itu tidak punya masa depan. Itu hanya akan menambah kebuntuan, kematian, yang akan menghambat masyarakat Papua itu sendiri,” kata Romo Magnis.

Oleh karena itu, Romo Magnis mengajak seluruh masyarakat untuk saling peduli antar sesama dalam rangka menjalin persatuan Indonesia. Karena, dirinya menyebut, Papua juga merupakan bagian dari Indonesia.

“Papua itu adalah bagian sah dari Indonesia. Tetap akan menjadi bagian dari Indonesia. Semua perlu menyadari dalam rangka persatuan Indonesia,” jelas Romo Magnis.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Romo Magnis dalam acara konfrensi pers bertajuk ‘Gerakan Suluh Kebangsaan Bersama Tokoh Bangsa Menyikapi Situasi Papua’ di Hotel Grand Sahid Jakarta, Jumat (23/8/2019).

LEAVE A REPLY