[BHC-Jakarta] Gerakan Suluh Kebangsaan menyampaikan sikap terkait aksi massa yang berujung kericuhan di Papua dan Papua Barat. Unjuk rasa tersebut merupakan bentuk protes terhadap tindakan persekusi dan rasisme yang dilakukan oleh organisasi masyarakat (Ormas) dan oknum aparat, terhadap mahasiswa Papua, di Malang, Surabaya dan Semarang.

Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD bersama para tokoh bangsa termasuk beberapa tokoh Papua menyerukan:

Pertama, semua pihak untuk menahan diri dan berpartisipasi aktif dalam menciptakan suasana kondusif di Papua.

Kedua, pemerintah termasuk TNl-Polri perlu mengedepankan dialog konstruktif bersama tokoh-tokoh Papua untuk mencari jalan keluar terbaik demi kepentingan masyarakat Papua dan NKRI.

Ketiga, semaksimal mungkin Pemerintah mengambil tindakan damai yang cepat, terencana, dan tepat sesuai dengan peratutan perundangan yang berlaku sehingga tidak jatuh korban lagi.

Keempat, pihak aparat penegak hukum agar menindak tegas oknum pelaku rasisme yang memicu kerusuhan dan mencegah terjadinya lagi kejadian serupa.

Kelima, semua komponen bangsa selalu menjunjung tinggi persamaan derajat sebagai sesama bangsa Indonesia, mencegah terjadinya tindakan diskriminalif, menghargai local values.

Pernyataan sikap tersebut disampaikan dalam acara konfrensi pers bertajuk ‘Gerakan Suluh Kebangsaan Bersama Tokoh Bangsa Menyikapi Situasi Papua’ di Hotel Grand Sahid Jakarta, Jumat (23/8/2019).

Turut hadir dalam konfrensi pers diantaranya, isteri Abdurahman Wahid atau Gusdur, Shinta Nuriyah Wahid, cendikiawan muslim, Quraish Shihab, serta tokoh Papua sekaligus mantan Menteri Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia, Manuel Kaissepo.

LEAVE A REPLY