[Lembaga Pemilih Indonesia-Jakarta] Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini di acara diskusi bertajuk ‘Dinamika Sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi: Saatnya Menerima Hasil’ mengatakan bahwa Pemilu 2019 belum tepat dikatakan pemilu yang sempurna. Sebab, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dari Pemilu 2019.

Titi berharap pemilu dengan lima surat suara seperti di tahun 2019 tidak terulang di 2024. Karena Pemilu seperti itu menurutnya tidak kompatibel bagi penyelenggara pemilu.

“Penyelenggara pemilu bebannya menjadi luar biasa, dan pemilu menjadi sesuatu yang unmanageable karena tidak mungkin kita pemilu yang demikian kompleks bagi peserta pemilu dan juga bagi pemilik suara,” kata Titi.

Disamping itu, pelaksanaan pemilu ditengah majunya teknologi serta kehadiran para media yang sangat luar biasa menjadikan masyarakat lebih cepat mengetahui terjadinya pelanggaran, mal administrasi pemilu.

“Media sosial informasinya begitu sangat besar dan cepet. Sehingga sesuatu yang dulu mungkin tidak akan mungkin kita akses saat ini bisa kita akses. Ini yang membedakan 2019 dengan Pemilu 2014, 2009, 2004 dan 1999,” jelas Titi.

Oleh karena itu, menurut Titi transparansi dan keterbukaan kepada masyarakat harus dapat membuat standar kinerja yang baik.

“Ruang keterbukaan, transparansi itu memang menyaratkan akuntabilitas yang lebih besar. Jadi, konteks itu yang harus dilontarkan,” ucap Titi.

Hal tersebut disampaikan oleh Titi Anggraini di acara diskusi di DPP PA GMNI, Jakarta, Rabu (26/6/2019).

LEAVE A REPLY