[BHC-Jakarta] Tokoh Muda Nahdlatul Ulama (NU), Guntur Romli, mengutuk aksi ricuh 22 Mei. Menurut Guntur, aksi ricuh tersebut bukan merupakan gerakan demokrasi maupun gerakan penyampaian aspirasi.

“Kita sama-sama mengutuk aksi biadap itu, aksi 22 Mei lalu itu bukan gerakan demokrasi dan gerakan penyampaian aspirasi, tapi gerakan kerusuhan massa,” tegas Guntur.

Disamping itu, Guntur Romli pun turut berduka atas jatuhnya korban pada aksi ricuh di depan gedung Bawaslu tersebut.

“Kita juga turut berduka kepada para korban. Namun kita harus bedakan mana yang korban mana yang pelaku menjadi korban,” ucap Guntur.

Selain itu, menurut Guntur, tindakan yang dilakukan oleh Gubernur DKI, Anies Baswedan, terkait penggeratisan biaya rumah sakit untuk massa demo 22 Mei adalah hal yang tidak benar.

“Gubernur DKI yang menggeratiskan rumah sakit untuk para korban di aksi 22 Mei itu sama saja mengundang orang untuk ikut melakukan aksi tersebut, padahal untuk biaya rumah sakit bukan pakai uang pribadinya,” kata Guntur.

Guntur Romli menegaskan bahwa kubu Prabowo-Sandi tidak boleh cuci tangan dengan adanya aksi ini. Sebab, secara kuat mereka diduga terlibat dalam aksi kerusuhan 21-22 Mei.

“Ada ambulans angkut batu dan ada tokoh-tokoh orang yang terlibat di sana. Ini urusan politik, Prabowo-Sandi jangan cuci tangan,” ujar Guntur.

“Jangan pakai lagi isu agama, jihad itu bela Allah bukan bela Prabowo, jihad itu di jalan Allah bukan di jalan Thamrin” sebut Guntur.

Hal tersebut disampaikan oleh Guntur Romli dalam acara diskusi bertajuk ‘Peran Masyarakat, TNI, dan Polri pada Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta dalam Menanggulangi Kerusuhan’ di Ammarin Restaurant, Jakarta Pusat, pada Rabu (29/5/2019).

LEAVE A REPLY