[BHC-Jakarta] Seorang dokter penyebar hoaks terkait remaja 14 tahun tewas ditembak polisi pada saat aksi 22 Mei diciduk polisi. Pelaku berinisial DS ditangkap jajaran Direktorat Reserse Krimibal Khusus Polda Jabar pada Senin (27/5/2019).

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar Kombes Samudi mengatakan bahwa DS merupakan seorang dokter di Rumah Sakit Hasan Sadikin dan RS AMC Bandung. Selain dokter, DS juga seorang dosen doktoral di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran.

“DS ini adalah seorang dokter ahli kebidanan dan seorang doktor S3 mengajar di salah satu perguruan tinggi di Bandung,” kata Samudi di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Selasa (28/5/2019).

“Kita sangat menyayangkan hal ini, seharusnya beliau ini kan dokter dan doktor pengajar, seharusnya membantu pemerintah, aparat keamanan dalam hal memberikan penyejukan, pemahaman dan edukasi ke masyarakat pengguna media sosial,” ujar Samudi.

Awal mulanya, DS melalui akun Facebook-nya menyebut ada remaja 14 tahun yang tewas ditembak polisi.

Berikut kutipan unggahan yang ditulis DS di akunnya pada 26 Mei 2019 :

Malam ini Allah memanggil hamba-hamba yang dikasihinya. Seorang remaja tanggung, menggunakan ikat pinggang berlogo osis, di antar ke posko mobile ARMII dalam kondisi bersimbah darah. Saat diletakkan distretcher ambulans, tidak ada respons, nadi pun tidak teraba. Tim medis segera melakukan resusitasi. Kondisi sudah sangat berat hingga anak ini syahid dalam perjalanan ke rumah sakit. Tim medis yang menolong tidak kuasa menahan air mata. Kematian anak selalu menyisakan trauma. Tak terbayang perasaan orangtuanya…. Korban Tembak Polisi, Seorang Remaja 14 Tahun Tewas

Polisi menyebut unggahannya itu berunsur konten hoaks. Sebab, unggahan yang dibuat oleh DS tersebut tidak benar karena tidak ada insiden yang mengakibatkan remaja 14 tahun tewas pada aksi 22 mei lalu.

“Itu tidak benar, tidak ada kejadian seperti itu di aksi 22 mei kemarin. Jadi yang bersangkutan ini kita lakukan penangkapan karena di akun Facebook-nya membuat berita bohong yang dapat menimbulkan keonaran” tegas Samudi.

Selain itu, menurut Samudi unggahan DS dapat memicu perpecahan dan bahkan dapat menimbulkan kebencian masyarakat terhadap institusi Polri.

“Unggahannya sangat berbahaya karena akun Facebook ini terbuka untuk umum dan bisa dibaca oleh semua orang, yang membaca ini juga dapat menimbulkan kebencian amarah terhadap institusi Polri kalau tidak disaring, tidak dijelaskan terlebih dahulu,” jelas Samudi.

Akibat perbuatannya DS terjerat Pasal 14 ayat (1), (2) dan Pasal (15) Undang-undang No. 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana dan atau Pasal 207 KUHPidana. DS terancam hukuman 10 tahun penjara.

LEAVE A REPLY