[BHC-Jakarta] Penyebar berita bohong terkait aksi kerusuhan 22 Mei 2019, Mustofa Nahrawardaya, kini ditangkap dan menjadi tersangka atas tuduhan penyebar hoax.

Menurut polisi, cuitan hoax Mustofa dapat memicu keonaran. Mustofa Nahra ditangkap pada Minggu (26/5/2019) di rumahnya.

“Cuitannya dapat membuat onar,” kata Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Rickynaldo Chairul, Minggu (26/5/2019).

Cuitan yang dimaksut yaitu mengenai seorang anak bernama Harun (15) yang meninggal usai disiksa oknum aparat. Cuitan itu diunggah di akun Twitter @AkunTofa.

Kutipan cuitan pada akun @AkunTofa :

Innalillahi-wainnailaihi-raajiuun. Sy dikabari, anak bernama Harun (15) warga Duri Kepa, Kebon Jeruk Jakarta Barat yg disiksa oknum di Komplek Masjid Al Huda ini, syahid hari ini. Semoga Almarhum ditempatkan di tempat yg terbaik disisi Allah SWT, Amiiiin YRA

Akibat perbuatannya, Mustofa dijerat dengan Pasal 45A ayat 2 jo Pasal 28 ayat 2 UU No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Kini Mustofa sudah ditahan di Bareskrim Polri,” ujar Ricky.

Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Daniel Johan mengatakan bahwa dirinya mendukung adanya gerakan sosial untuk menolak ‘sampah medsos’.

Menurut Daniel, seluruh masyarakat harus saling mendukung untuk dapat membasmi penyebaran hoaks, baik hoaks di media maya maupun di dunia nyata.

“Untuk menolak sampah medsos perlu ada gerakan sosial dalam berbagai bentuk. Ya kalau tidak, nanti lama-lama ketahanan nasional kita runtuh hanya karena socmed. Seperti pakar budayawan sosiologi harus turun gunung memikirkan hal ini secara serius,” kata Daniel, kepada wartawan, Minggu (26/5/2019).

LEAVE A REPLY