[Lembaga Pemilih Indonesia- Jakarta] Ekonomi Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Nawir Messi mengatakan, persoalan ekonomi dan kesejahteraan sosial masih menjadi permasalahan utama di Indonesia.

M. Nawir Messi menilai sektor keuangan negara, investasi, perdagangan dan industri menjadi solusi dalam mengentaskan persoalan ekonomi dan kesejahteraan sosial yang dihadapi.

“Yang saya sebutkan itu dapat menjadi solusi dalam menyelsaikan masalah ekonomi dan kesejahteraan sosial. Sebab masalah tersebut masih menjadi masalah utama di negeri kita,” sebut M. Nawir Messi di acara diskusi betajuk ‘Tantangan Ekonomu dan Kesejahteraan Sosial’ di Jakarta, pada Kamis (11/4/2019).

M. Nawir Messi sebut sepuluh permasalahan krusial bangsa di bidang ekonomi yang diharapkan dapat disentuh dan diberikan solusi dalam debat Pilpres kelima.

Pertama, Urgensi perbaikan kuantitas dan kualitas pertumbuhan ekonomi. Kedua, daya beli tergugat, saat inflasi cenderung rendah.

“Realisasi laju pertumbuhan ekonomi selama era reformasi ini belum mampu menyamai capaian era Orde baru. Selain itu, tren inflasi rendah tidak mampu menstimulasi kegiatan ekonomi terutama konsumsi,” beber M. Nawir Messi.

Ketiga, kalah saing mengungkit daya saing. Keempat, siapapun presidennya, impor pasti, dan akan tetap jalan.

“Dari survei terhadap perusahaan di Jepang menunjukkan penurunan popularitas Indonesia sebagai negara tujuan investasi langsung dalam tiga tahun ini peringkat Indonesia terus turun,” jelas M. Nawir Messi.

“Impor menjadi suatu yang pasti, menghentikannya adalah suatu yang utopis. Hal ini karena sektor industri yang masuk mengandalkan bahan baku impor serta semakin rendahnya output di sektor pertanian dan peternakan sementara pertumbuhan penduduk terus meningkat,” tegas M. Nawir Messi.

Kelima, deindustri adalah hal lumrah, namun di Indonesia terjadi lebih cepat dari negara ASEAN lainnya. Keenam, Logistik sekarat, perdagangan tidak terangkat.

“Ketujuh, revolusi industri 4.0 tidak lebih dari sekedar euforia dan gimmicm politik. Kedelapan, rendahnya kinerja perpajakan dan peningkatan risiko utang,” kata M. Nawir Messi.

Kesembilan, problematika dana desa dan kesepuluh adalah inkonsistensi kebijakan subsidi energi.

“Kenaikan dana desa dari Rp 20,8 triliun (2015) menjadi Rp 70 triliun (2019) tidak sebanding lurus dengan peningkatan indikator sosial di pedesaan,” ujar M. Nawir Messi.

“Pembengkakan subsidi energi terjadi karena faktor kenaikan harga minyak mentah dunia dan depresiasi rupiah,” tutur M. Nawir Messi.

LEAVE A REPLY