[Lembaga Pemilih Indonesia- Jakarta] Indo Survey & Strategy mengadakan diskusi publik bertajuk ‘Analisis Hasil Survei: Mengapa Bisa Beda?’ pada Selasa (26/3/2019) di Menteng, Jakarta Pusat.

Indo Survey & Strategy menghadirkan pembicara dari Peneliti Litbang Kompas Toto Suryaningtyas, Peneliti LSI Denny JA Ikram Masloman, Pakar Psikometri Riset dan Statistik Prof. Yahya Umar, Ph.D, Direktur Ekskutif INDO SURVEY & STRATEGY Hendrasmo, CEO ALVARA RESEACH CENTER Hasanuddin Ali, dan Pengamat Politik Adi Prayitno.

Peneliti Litbang Kompas Toto Suryaningtyas mengatakan hasil survei yang dilakukan Litbang Kompas pada 22 Februari 2019-5 Maret 2019 menunjukkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin kini 49,2 persen, sedangkan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memiliki elektabilitas sebesar 37,4 persen.

“Terkait hasil survei kami yang terakhir, memang memberikan hasil yang bisa dibilang agak berbeda dengan lembaga-lembaga yang lain, kami juga cukup terkejut melihat hasil seperti itu, namun angka tersebut masih masuk dalam margin of error” ujar Toto Suryaningtya.

Terkait hasil survei yang berbeda dengan lembaga-lembaga lain Toto Suryaningtya sebut banyak pihak yang menuding bahwa Litbang Kompas memiliki kecenderungan keberpihakan kepada pasangan Prabowo-Sandiaga yang dalam temuan survei itu memiliki elektabilitas yang menanjak dari survei sebelumnya pada Oktober 2018.

“Jadi kalau bicara angka sebenarnya kami tidak beda jauh, banyak yang bilang kami memakai angka skeptis, seakan-akan kami berpihak pada salah satu paslon,” sebut Toto.

Peneliti LSI Denny JA Ikram Masloman mengatakan, Survei hanya dapat digunakan saat survei itu sendiri berlangsung. Selain itu, Ikram menilai bahwa survei tidak dapat mendeteksi golput

“Survei paling anyar hanya 14 hari, dalam rentang 14 hari akan ada dinamika baru, jadi kita tidak bisa membenarkan atau menyalahkan setiap hasil survei setiap lembaga, karena hasil surveinya belum mendeteksi golput,” jelas Ikram Masloman.

Direktur Ekskutif INDO SURVEY & STRATEGY Hendrasmo, terkait hasil survei Litbang Kompas yang berbeda dengan lembaga-lembaga lain, Hendra mengatakan peroses riset yang dilakukan Litbang Kompas tidak diinformasikan secara utuh yang menyebabkan banyak pertanyaan dari publik.

“Jadi, kalo saya tidak ada yang salah survei Litbang Kompas ini namun prosedurnya harus dibeberkan agar orang tidak bertanya-tanya,” jelas Hendrasmo.

CEO ALVARA RESEACH CENTER Hasanuddin Ali mengatakan untuk melihat benar atau tidaknya suatu hasil survei maka lihat status sesuai dengan komposisi populasi penduduk di Indonesia. Ketika komposisi demografi bergeser sedikit saja dari populasi, maka hasilnya pasti akan berbeda dengan populasi.

“Trik yang saya lakukan adalah pertama kali cek profil demografi responden. Apakah komposisi gender, usia, ekonomi status sesuai dengan komposisi populasi penduduk di Indonesia serta agama, tingkat pendidikan dan lain-lain,” beber Hasanuddin Ali.

“Saya contohkan, misalnya komposisi tingkat pendidikan mayoritas masyarakat SMA ke bawah, tapi lembaga survei pakai data pendidikan mayoritas adalah S1/sarjana. Maka hasilnya akan berbeda,” jelas Hasanuddin Ali.

Pakar Psikometri Riset dan Statistik Prof. Yahya Umar, Ph.D mengatakan bahwa hasil survei yang dilakukan oleh lembaga survei dengan lembaga survei lainnya memang harus berbeda.

“Hasil survei harus beda-beda. Orang lembaga yang sama melakukan survei dengan samplenya yang sama saja, hasilnya bisa berbeda, apa lagi ini,” kata Yahya Umar.

Pengamat Politik Adi Prayitno mengatakan, bahwa responden menjadi roh dan nyawa dalam sebuah survei. Sebab, salah menentukan sampel maka hasilnya tidak akan baik.

“Responden menjadi roh dan nyawa dalam hasil survei, salah menentukan sampel maka hancurlah,” tegas Adi Prayitno

Terkait survei Litbang Kompas, Adi Prayitno sebut belum mendapat penjelasan soal faktor apa paslon 01 turun dan paslon 02 naik. Karena, Adi menilai belum ada pristiwa sepert ini.

“Belum ada penjelasan faktor apa 01 turun 02 naik, sepertinya juga belum ada pristiwa sepert ini,” kata Adi Prayitno.

LEAVE A REPLY