Jakarta, CNN Indonesia — Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens menilai dugaan kampanye hitam oleh emak-emak yang diduga tergabung dalam Partai Emak-emak Pendukung Prabowo-Sandi (PEPES) di Karawang, Jawa Barat, mengancam proses elektoral yang berjalan saat ini.

Boni mengatakan pernyataan tiga emak-emak yang terekam dalam video tentang larangan azan jika Jokowi terpilih itu merupakan bentuk fitnah dan kebohongan yang tak berdasar.

“Kampanye berisikan fitnah dan kebohongan ini jadi ancaman atas proses elektoral dan menjadi bahaya bagi pemilu karena menyajikan propaganda politik yang merusak integrasi, merusak kekeluargaan, dan merusak solidaritas di tengah masyarakat,” ujar Boni dalam sebuah diskusi di kawasan Semanggi, Jakarta, Sabtu (2/3).

Selain itu, lanjut Boni, kampanye yang dilakukan emak-emak itu juga berpotensi memicu keributan dari komunitas Islam.

Ia menyarankan Prabowo-Sandi sebagai kandidat yang didukung emak-emak PEPES mengevaluasi kembali dukungan dari para relawannya.

“Harus segera dikoreksi, evaluasi, sebelum terlambat karena ini bukan tentang merebut kekuasaan selama lima tahun. Tapi perkara menjaga keutuhan bangsa,” katanya.

Pendapat berbeda disampaikan pengajar di London School of Public Relations (LSPR) Gracia Paramitha. Menurutnya, tindakan emak-emak itu secara tak langsung justru menunjukkan bahwa peran perempuan saat ini dimaksimalkan khususnya dalam kampanye.

“Ini perempuan sudah diperhitungkan meski caranya kurang baik, yakni dengan menebarkan hoaks,” ucapnya.

Gracia mengatakan keterlibatan perempuan dalam kampanye mestinya dapat membangun iklim demokrasi yang lebih baik. Sebaliknya, jika memainkan peran yang ‘kebablasan’ akan berdampak buruk pada praktik demokrasi itu sendiri.

Ia mencontohkan Neno Warisman yang dinilai sudah kebablasan dalam menjalankan perannya dalam kontestasi Pilpres 2019. Teranyar, Neno membacakan puisi yang sebagian isinya adalah meminta kemenangan dalam pilpres.

Menurutnya, perlu alternatif tokoh lain untuk mengimbangi sehingga perempuan tak sekadar dimanfaatkan dalam momentum kampanye tersebut.

“Kalau ada Neno berarti harus ada pendampingnya semacam Yenny Wahid, Khofifah yang memberikan narasi-narasi positif. Seperti itu,” ucapnya.

Tiga emak-emak yang berkampanye soal larangan azan jika Jokowi terpilih kembali sebagai presiden telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Karawang.

Ketiganya disangka melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik setelah diduga melakukan kampanye hitam terhadap pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019.

Tiga emak-emak itu disebut berasal dari organisasi relawan PEPES. Pihak PEPES sendiri membantahnya, namun tak menutup kemungkinan ketiganya simpatisan PEPES.

Sementara itu Wakil Direktur Relawan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ferry Juliantono, mengaku belum dapat memastikan apakah emak-emak PEPES ini bagian dari relawan resmi paslon nomor urut 02. (psp/wis)

Sumber: https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190302153422-32-374010/kampanye-emak-emak-pepes-dinilai-ancam-keutuhan-bangsa

LEAVE A REPLY