JAKARTA. WAWASANCO — Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens menilai munculnya emak-emak dalam kampanye pilpres sekarang ini merupakan fenomena yang menarik.

Sebuah kebangkitan emak-emak yang menarik dan positip. Namun di sisin lain , gerakan emak-emak ini akan menjadi ancaman terhadap elektoral dan menjadi bahaya bagi pemilu.

”Gerakan emak-emak ini positip. Tapi akan jadi bahaya ketika kampanye yang diusung berisikan kebohongan dan fitnah,”kata Boni Hargens saat membuka diskusi Merawat Ke-Indonesiaan ‘Relawan Pepes Fenomena Elektoral Biasa atau Bahaya’ di Jakarta, Sabtu (2/3).

Boni mengambil contoh tiga relawan Partai Emak-emak Pendukung Prabowo-Sandi (PEPES) di Karawang, Jawa Barat, yang ketangkap oleh aparat keamanan karena melakukan kampanye hitam terhadap pasangan calon presiden Jokowi-Ma’ruf Amin.

Menurut Boni Hargen narasi yang disampaikan oleh relawan PEPES itu merupakan kebohongan dan fitnah yang keji. Dalam kampanye mereka mengatakan kalau Jokowi menang maka kumandang Azan akan dilarang.

”Ini sebuah propaganda politik yang dapat merusak integritas, merusak kekeluargaan dan merusak solidaritas masyarakat,”katanya.

Padahal, lanjut Boni, masyarakat berharap proses pemilu ini berlangsung secara fair dan damai. Karena pemilu ini adalah sebuah partisipasi politik seluruh warga terlibat untuk merayakan demokrasi dan merayakan martabat kita sebagai manusia.

Boni berharap pasangan capres Prabowo-Sandi dan timnya yang menggunakan relawan PEPES untuk melakukan evaluasi kembali sebelum terlambat.

Boni mengingatkan pemilu ini bukan persoalan merebut kekuasaan untuk lima tahunan, tetapi menjaga keutuhan bangsa dan nila-nilai bersama dan memjaga kepentingan semua orang.

”Jangan meraih kekuasaan dengan merusak tatanan moral, nilai dan peradaban kita,”tambah Boni.

Sekali lagi Boni menegaskan narasi yang disampaikan oleh tiga emak-emak di Karawang yang tergabung di PEPES itu menjadi ancaman bagi demokrasi dan kerukunan.

”Makanya kami minta agar gerakan seperti ini dievaluasi dan dinyatakan haram dalam demokrasi kita,”katanya.

Sementara pengamat politik Arbi Sanit menilai munculnya relawan-relawan dalam pemilu ini menunjukkan lemahnya sistem kelembagaan partai politik yang ikut dalam pemilu.

Partai politik katanya seperti kumpulan orang arisan atau pengajian yang membentuk lembaga sehingga untuk menang mereka mengerahkan relawan.

Menurut Arbi Sanit, relawan itu tidak ada dasar hukumnya, tidak ada aturannya mainnya, mereka tumbuh begitu saja tanpa ada lembaganya.

”Relawan itu sebuah kekuatan yang muncul begitu saja dalam sebuah pesta demokrasi tapi tidak ada atuean mainnya atau aturannya apalagi lembaganya,”katanya.

Makanya, lanjut pengajar di UI ini dalam gerakannya relawan ini sering muncul ekses. Karena mereka sesuka hatinya melakukan permainannya. Untuk.menghindari ekses yang timbul, menurut Arbi Sanit, lebih baik dibuat aturannya dan dilembagakan supaya ada aturan mainnya.

Sumber: https://www.wawasan.co/news/detail/8237/geralan-relawan-pepes-dinilai-membahayakan-demokrasi

 

LEAVE A REPLY