Terhitung sejak 2016, dinamika politik di tanah air ditandai berbagai goncangan yang cukup melelahkan dan meresahkan. Politik identitas menjadi arus utama ketika oposisi politik kehilangan akal sehat untuk mengevaluasi dan mendelegitimasi pemerintahan Presiden Joko Widodo. Suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dijadikan komoditas untuk meraih dukungan politik.

Alhasil, masyarakat terbelah. Dikotomi yang kejam atas dasar SARA tidak hanya mengganggu jalannya pemerintahan, tetapi juga mengancam masa depan keindonesiaan kita yang sudah dibangun para Pendiri Republik dengan darah dan keringat. Pancasila, sebagai fondasi yang merekatkan keberagaman dan falsafah yang menyatukan masa lalu dan masa depan kita sebagai negara-bangsa, diganggu oleh kehadiran dan serangan ideologi dan kelompok radikal yang ingin menerapkan NKRI Syariah.

Memang, kita akui, kita lelah dan terluka dengan serangan-serangan teroris dan kemarahan kelompok radikal yang berteriak di jalan dan memadati dunia maya dengan hasutan kebencian dan fitnah.

Namun, alhamdulilah, sampai hari ini, dan sampai kapanpun, bangsa ini masih dan akan tetap kuat. Masyarakat kita adalah kekuatan yang tak terkalahkan oleh permainan kotor para pecundang politik. Masyarakat kita adalah modal terbesar yang tak bisa digadai oleh dan untuk kepentingan kekuasaan yang temporer.

Untuk itu, dan pada kesempatan ini, kita perlu mengapresiasi setinggi-tingginya kerja keras Badan Intelijen Negara (BIN), Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) yang telah dan selalu komit menjaga keamanan masyarakat, bangsa dan negara dalam segala keadaan.

Bahkan dalam momen menjelang Lebaran ini, ketika kita sibuk mengatur jadwal berlibur, mereka justru sibuk bekerja keras untuk menjaga masyarakat dan bangsa ini.

Isu lain, yang heboh dari kemarin, pernyataan tokoh senior Amien Rais bahwa “Tuhan bakal malu bila doa jutaan umat yang meminta presiden diganti tahun 2019”. Pembelahan masyarakat politik dengan memakai agama terus dilakukan. Tetapi kita percaya, bangsa yang dibangun dengan semangat dan jiwa Islam Indonesia yang moderat, toleran, dan cinta damai, tidak akan jatuh ke tangan para pecundang yang maniak kekuasaan. Tuhan tak bisa ditawar, tak mungkin bisa diajak berkompromi, apalagi dilibatkan dalam konsolidasi politik yang kotor. Tuhan tetaplah Tuhan pada kemahakuasaannya yang tak akan pernah berkurang oleh kekuatan apapun. Dan kita percaya, Tuhan yang sama hanya memberkati pemerintah yang peduli dengan rakyat, yang bekerja siang malam untuk kemaslahatan umat.

Pemerintahan itu tergambar dalam diri Jokowi Widodo dan Jusuf Kalla. Lebaran tahun ini, 1439 Hijriah, adalah momentum religious yang mahal nilainya. Lebaran di tahun politik ini berlangsung ketika umat coba dibelah oleh kepentingan dan permainan politik. Tetapi kita tetap yakin, Islam sebagai bagian inheren dari keindonesiaan kita akan tetap menjadi agama yang menyatukan dan mendamaikan dalam satu “melting pot” bernama INDONESIA.

Pesan moral dari bulan suci Ramadhan tidak hanya saling memaafkan di antara kita, tetapi bagaimana kita dan seluruh kekuatan nasional juga mau memaafkan kelompok politik yang mempermainkan SARA sebagai modal dan menjadikan kekacauan sebagai momentum untuk meraih kekuasaan. Mereka pun bagian dari kita sebagai keluarga besar NKRI.

Untuk mereka, kita memberikan maaf yang tulus agar ada pertobatan dan rekonsiliasi nasional menuju Pilpres April 2019 mendatang. Substansinya jelas, INDONESIA tidak dibangun untuk periode pemilu 5 tahun, tetapi untuk selama-lamanya. Maka, baiklah komitmen jiwa dan raga kita arahkan dan kerahkan untuk keberlangsungan INDONESIA untuk selama-lamanya.

Akhir kata, kami dari Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) mengucapkan, Selamat Menyongsong Kemenangan di Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Berkah untuk kita semua dan selamat untuk Negeri tercinta.

Jakarta, 11 Juni 2018

Boni Hargens
Direktur
LEMBAGA PEMILIH INDONESIA (LPI)

LEAVE A REPLY