Gaya atau style kepemimpinan Presiden Joko Widodo diapresiasi oleh tiga anak buahnya yang duduk di Kabinet Kerja Jilid II.

Khususnya dari sisi kesederhanaan, kedekatannya dengan rakyat hingga kepemimpinan partisipatoris dan bekerja dengan cepat dalam mengeksekusi berbagai kebijakan.

Ketiga anak buah Jokowi tersebut adalah Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri. Satu lagi, Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia yang kini dipercaya menjadi Komisaris Utama PT Pembangunan Perumahan Tbk, Andi Gani Nena Wea.

“Pada saat birokrasi macet beliau punya satu kekuatan yang luar biasa. Fleksibel, tidak tergantung birokrasi dan segera dilaksanakan,” kata Menhub Budi Karya mengawali testimoninya terhadap kepemimpinan Presiden Jokowi di Jakarta, Kamis (27/10/2016) malam.

Ia berbicara dalam “Seminar Era Nawacita dan Relevansi Kepemimpinan Multidimensi” dan bedah buku “Jokoway” : “Sebuah Potret Seni Kepemimpinan” karya relawan Jokowi yakni Michael Umbas. Seminar menghadirkan motivator Tung Desem Waringin dan Ongky Hojanto.

Presiden kata Budi Karya, apabila menginginkan sesuatu maka dalam waktu cepat segera dieksekusi. Saat menjadi Gubernur DKI, juga menerapkan kepemimpinan yang sama yakni menerabas birokrasi yang berbelit untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi warga Ibukota.

Menkominfo Rudiantara menyatakan, ada setidaknya enam gaya dalam teori kepemimpinan. Namun kepemimpinan Jokowi tidak ada mirip-miripnya dengan enam gaya kepemimpinan tersebut. Sebab, meski keenamnya ada pada Jokowi, namun ada sesuatu yang tidak tepat disematkan kepada Presiden.

Keenam gaya itu adalah pertama pemimpin yang selalu menetapkan target dan waktu, kedua pemimpin otoritatif yang senantiasa mengedepankan kerja, ketiga pemimpin yang selalu mengedepankan orang lain, kelima pemimpin yang meminta anak buah mengerjakan apapun yang diperintahkan dan terakhir pemimpin demokratif.

“Pengalaman dua tahun satupun tidak ada. Satu yang tidak pernah lepas dari kepala saya beliau sangat desesif (berani ambil keputusan),” kata Rudiantara.

Sementara Menaker Hanif Dhakiri mengatakan, bahwa kepemimpinan atasannya senantiasa ditunjukkan dalam bentuk keteladanan. Sebelum menyuruh orang lain, Presiden sudah memberikan contoh secara langsung. Misalnya, Presiden minta Menterinya bekerja keras maka Presiden menunjukkan dulu bekerja keras.

Sebagai pribadi untuk testimoni atas buku karya Michael Umbas, Hanif mendefinisikan kepemimpinan atasannya dengan sederhana dan simpel. Bahwa seorang pemimpin itu harus tahu apa yang dia lakukan, mengambil keputusan dengan segala resikonya dan terakhir memberikan inspirasi bagi semua orang.

“Pak Jokowi tahu betul Indonesia mau dibawa kemana makanya dia berani ambil keputusan dengan segala resikonya. Beliau juga memimpin dengan uswah khasanah memberikan contoh,” jelasnya.

Buku ‘Jokoway’: “Sebuah Potret Seni Kepemimpinan” sendiri merupakan buku ketiga karya Michael Umbas yang mengulas perjalanan Jokowi. Dari awal perjalanan Jokowi di DKI, Pemilihan Presiden 2014 hingga duduk menjadi Presiden RI. Perjalanan yang disampaikan Umbas melalui proses yang panjang dan berliku.

Buku Jokoway sekaligus menjadi dorongan moril bagi Presiden Jokowi dalam menyelesaikan program pemerintah tiga tahun ke depan. Dalam jangka panjang, Umbas menaruh harapan kepemimpinan Jokowi nantinya berlanjut dalam lima tahun mendatang alias dua periode.

“Pak Jokowi adalah kita, sekali lagi Pak Jokowi tidak berubah,” demikian Umbas. (Red: Hasanuddin Aco/http://www.tribunnews.com/nasional/2016/10/27/jokoway-jokowi-adalah-kita-pemimpin-dengan-keteladanan).

LEAVE A REPLY