Hatta Rajasa adalah calon Presiden dari Partai Amanat Nasional (PAN). Sebelum menjabat posisi menteri Kordinator Perekonomian, Hatta memiliki posisi penting dalam kabinet SBY;Menteri Teknologi, Menteri Transportasi dna Menteri SekretarisNegara. Tak ada politisi di republik ini yang seperti Hatta sangat calm meningkatkan dana untuk pendanaan partai. Coba Elaborasi elekatibilitas PAN, Hatta menggantikan Amin Rais, lalu idelogi PAN.

Relasi Dengan Perusahaan

Nama Hatta sangat dekat dengan Arthindo Utama. Sejak February 2009, managemen dan struktur pemegang saham perusahaan ini berubah. Berdasarkan website perusahaan, Hafizt Tohir adalah Presiden Komisaris dan Jhon Erizal sebagai CEO,M. Reza Rajasa putra Hata sebagai Direktur.

Apa bisnis Arthindo utama? Website perusahaan menyediakan beberapa pengalaman proyek sampai febriary 2008 kebanyakan workover rig kontrak untuk PT Chevron Pacific Indonesia di ladang minyak Duri. Perusahaan itu menyediakan services seperti pemberoan minyak dan gas dan geotermal.

Perusahaan memindahkan kantornya ke Palma One lt 11, suite 1104 dan 1106, Rasuna Said, sejak juli 2011.

Pada 27 April 2010,Atrhindo utama adalah beberapa dari partisipan dalam Slovak-Indonesian Business Forum yang diselenggarakan di hotel Falkensteiner, Bratislava, Slovak Republik.

Seperti Arthindo memiliki relasi baik dengan CPI. Reza Rajasa sekarang bicara listrikindonesia.com bahwa Arhindo telah mengantongi beberapa unit bisnis strategis untuk menyediakan 350 HP rig dengan nilai US$30 juta dolar untuk ladang Mina.

Arthindo sangat agresif untuk project Coal Bat Mathenae. Memiliki PLTG Sangeti di Jambi dengan kapasitas 28 MW.

Laporan keunganan PLN 2008 mengatakan status proyek ini tidak jelas. 5 tahun kemudian PT Artha Daya Coalindo mengumumkan rencana kerjasama dengan PT Jaya Samudra Karunia untuk mengembangkan sebuah IUP di Kalimantan Timur. Arthindo adalah pemegang saham 20 % Artha Daya Coal Indo, 60 % saham dimiliki PT Indonesia Power anak usaha PLN dan 20 % dimiliki PT Desire Pratama Line

Putra Hatta Reza adalah CEO Arthindo, menikah dengan RA Kusuma Anggriani saudara dari Djoko Ramiaji, pada juli 2007. Djoko adalah putra dari pebisnis wanita terkenal dan politisi (Mustika Ratu), ia memiliki kerajaan bisnis di luar mustika ratu yang dikontrol oleh saudaranya. Ramiaji terindikasi korupsi beberapa tahun lalu. Kantor MA awalnya menghentikan investigasi kasus dan kemudian dibuka kembali pada bulan Mey, 23, 2001. Dia terindikasi korupsi Crime in the issunece of the commercial paper dengan total Rp 209 miliar untuk konstruksi Jakarta Outer Ring Road toll road. Dua orang dipenjara Tjokorda Reka Sukawati (CEO sebelumnya PT Hutama Karya ) dan Thamrin Tandjung koordinator proyek jalan tol. Penjara 2003, tetapi pengadilan memberhentikan kasus Ramiaji.

Dari semua itu, misteri yang sangat mengejutkan adalah Powertel (WWW.Powertel.co.id ) mari kita lihat struktur perusahaan sebelum berubah; Dicky Tjokrosaputro sebagai CEO,Retno Cahyaningtyas sebagai komisaris,. Retno adalah saudara dari Wharasti Cendrawasih, older sister Any Yudhoyono. Ayah Retno adalah Erwin Sudjono (mantan Kepala Kostrad)

Powertel mencoba menjual sahamnya melalui IPO beberapa tahun lalu dengan underwriter BNI Securitas, anak usaha Bank Negara Indonesia, yang CEO, Gatot Suwendo, ipar laki-laki, Hartanto Edhy Wiwobo, komisaris Powertel.

Pada tahun 2008, powertel masuk dalam deal menukar bond di mana BNI mengundewrite Rp43 miliar bond powertel. Pada juli 2008, BNI juga menjual Rp 118, 95 miliar Sukuk dari Powertel. Apakah KPK tidak melihat dibalik semua aksi korporasi perusahaan ini?

Kasus-kasus

Mantan Dirjen Perkerta Apian Kementerian Transportasi, Soemino Eko Saputro ditahan dalam penjara selama 3 tahun. Hatta adalah menteri Transportasi ketika Soemino menjabat sebagai Dirjen. Dalam kasus Soemino, kita harus memulai dari anggaran negara 2006 ketika Soemino mendatangakan 160 kereta api. Pada september, 2005 Hatta memimpin rapat dengan Soemino dan pejabat tinggi kementerian transportasi lainnya.

Soemino memerintahkan stafnya,Asrill untuk mengontak Daiki Ohkubu, konsultan Japan Railway Technical Service (JRTS ). Pada oktober 2005, Hatta mengundang untuk mendiskusikan penggunaan kereta api impor dari Jepang.

Hadir dalam pertemuan dengan Hatta Soemino dan beberapa nama diluar kementerian, seperti Agung Tobing, Dicky Djokosaputro dan Jhon Erizal. Tiga nama ini adalah wakil dari PT Powertel. Jhon Erizal sekarang menjadi Bendahara Partai Amanat Nasional. Dicky adalah putra Beny Djokosaputro, trader pasar saham ternama.

Hartanto Edhi Wibowo, kaka sulung Ibu Ani Yudhoyono adalah Presiden Komisaris Powertel, sekarang anggota DPR, anggota komisi energy

Pada 12-15 november 2005, Jhon Erizal, Agung Tobing, Hartanto,Hafiz Tohir (Saudara Hatta eksekutif di PAN ) dan Dicki berkunjung ke Jepang dengan semua biaya ditanggung oleh Sumitomo Joint Operation. Pada januari 13-18, 2006, Soemino dari team Powertel mengunjungan jepang lagi dan dibiayai Sumitomo.

Lantas apa peran Powertel dalam mengeksekusi proyek ini? Mengapa Powertel tidak terjerat kasus ini?

Mafia Migas, Hatta & Cikeas

Bisnis minyak memang menjadi lahan basah yang banyak diperebutkan oleh banyak pihak tak terkecuali para pemangku jabatan di pemerintahan. Aksi penyadapan telepon Presiden SBY dan sejumlah pejabat negara Indonesia oleh pihak Australia dikabarkan memuat data mengenai kontrak karya Migas keluarga SBY dan kroninya, hingga percakapan antara Presiden SBY dengan sang mafia minyak yang masih menjadi misteri, Muhammad Riza. Istana memang dikabarkan dekat dengan mafia minyak Muhammad Riza. Lalu sejauh mana hubungan Muhamad Riza dengan SBY dan kaitan mafia minyak dengan keluarga Dinasti Cikeas ini?

Buku “Gurita Cikeas” yang ditulis George Aditjondro, mengatakan salah satu bisnis strategis Dinasti Cikeas adalah ekspor impor minyak mentah. Aditjonro menyebut bisnis ini sudah membentuk sebuah sindikat antara keluarga SBY, pejabat perminyakan, dan poros pedagang minyak mentah Indonesia yang dekat dengan anak-anak dan adik-adik Soeharto sejak zaman Soeharto, melalui Permindo Oil Trading, Pemindo Ltd. Perta Oil Marketing Ltd, dan Pacific Petroleum Trading. Mereka memiliki posisi strategis untuk menentukan harga minyak.

Aditjondro juga menyebut lingkaran keluarga besar SBY yang masuk ke sindikat perdagangan minyak bumi yang berbasis di Singapura adalah Erwin Sudjono (kakak par Ani Yudhoyono) dan Hartanto Edhie Wibowo. Sedangkan dari kalangan pejabat ada Purnomo Yusgiantoro dan Menko Perekonomian, Hatta Rajasa.

Hatta Rajasa juga diduga memiliki keterkaitan dengan bisnis pertambangan dan perminyakan. Ia pernah menjadi Presiden Direktur PT Arthindo Utama. Arthindo yang berdiri pada tahun 1982 memang turut dalam beberapa kegiatan hulu bidang energi terutama untuk proyek pemanfaatan dan pengolahan gas serta pembangkitan tenaga listrik (Power Plant). Sejumlah klien yang ditangani Arthindo antara lain PT Chevron Pacific Indonesia, PT Caltex Pacific Indonesia, Pertamina, dan sebagainya. Kini PT Arthindo Utama dikelola oleh Putra Hatta Rajasa, yaitu M. Reza Rajasa. Hatta Rajasa memang sering membantah dugaan keterlibatannya pada konspirasi bisnis dengan jaringan Global Energy Resources milik Muhammad Riza Chalid yang berbasis di Singapura.

Namun Adijondro mengatakan sindikat itu menguasai ekspor impor minyak mentah dan Petral, anak perusahaan Pertamina, bekerja sama dengan Global Energy Resources yang dikuasai oleh Muhammad Riza Chalid. Nama Muhammad Riza Chalid memang Jarang terdengar di kancah bisnis Indonesia, namun di kalangan pengusaha sektor minyak dan gas (migas) semua pasti mengenal dan sangat menyeganinya. Pemilik grup perusahaan (holding) Global Energy Resources (GER) ini tak hanya terkenal sebagai pengusaha minyak impor, tetapi juga sebagai penguasa bisnis impor minyak Indonesia, yang mekanismenya dilakukan oleh Pertamina Energy Trading Limited atau Petral.

Kalangan pengusaha minyak dan broker minyak internasional mengakui kehebatan Riza sebagai God Father bisnis impor minyak Indonesia. Di Singapura, Muh Riza Chalid dijuluki “Gasoline God Father” dan kabarnya lebih separuh impor minyak RI dikuasai oleh Reza, pemilik Global Energy Resources yang menjadi induk dari 5 perusahaan yaitu Supreme Energy, Orion Oil, Paramount Petro, Straits Oil dan Cosmic Petrolium yang berbasis di Singapura dan terdaftar di Virgin Island yang bebas pajak.

Kelima perusahaan ini dikabarkan merupakan mitra utama Pertamina. Bahkan Riza diduga selalu menghalangi pembangunan kilang pengolahan BBM dan perbaikan kilang minyak di Indonesia. Global Energy Resources, perusahaan milik Riza pernah diusut karena temuan penyimpangan laporan penawaran minyak Impor ke Pertamina. Tapi kasus tersebut hilang tak berbekas dan para penyidiknya diam tak bersuara. Kasus ditutup. Padahal itu diduga hanya sebagian kecil saja.

Hingga kini keberadaan mafia Migas masih sulit diberantas. Menteri BUMN Dahlan Iskan sebelumnya sempat mengatakan akan membubarkan Petral, anak usaha Pertamina, namun tiba-tiba batal bahkan sekarang semakin eksis. Dahlan Iskan mengaku tak lagi menggunakan jasa Petral sebagai perantara dalam membeli minyak mentah dan BBM oleh Pertamina untuk menghindari keterlibatan mafia Migas.

Catatan; M. Rezza sangat dekat dengan bisnis keluarga cendana. Masuknya Hatta ke kubu Prabowo tentu sangat membantu mencairkan kembali bisnis yang sudah lama loyo dalam keluarga Cendana. (Tim Riset BHC)

LEAVE A REPLY