Hatta Rajasa, ketua umum sekaligus calon presiden (capres) dari Partai Amanat Nasional (PAN) sedang berjibaku meningkatkan popularitas demi sukses menduduki kursi RI 1. Sejumlah cara ditempuh Hatta juga partainya. Siapa sebenarnya Hatta, karirnya di dunia bisnis dan politik, kontroversi serta bagaimana arah ideologi PAN selama era kepemimpinananya? Lewat artikel berikut, Tim Riset BHC menyajikan banyak informasi tentang besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.

PAN sudah menetapkan Hatta sebagai bakal capres dalam Rapat Kerja Nasional Tahun 2011. Meski berdasarkan hasil survei berbagai lembaga, elektabilitas Hatta masih relatif rendah, namun tampaknya, ia tetap optimis bisa maju dalam Pilpres Juli mendatang. Hasil survei terakhir Kompas misalnya, menunjukkan elektabilitas Hatta di bawah 3 persen, jauh di bawah Joko Widodo di posisi pertama yang meraih 43 persen.

Keluarga dan Karir

Hatta lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 18 Desember 1953. Ia kemudian menikah dengan Okke Hatta Rajasa. Keluarga ini dikaruniai 4 orang anak, diantaranya Mohammad Reza Ihsan Rajasa (Direktur Arthindo Utama, perusahan warisan Hatta), Siti Ruby Aliya Rajasa (menikah dengan Edhie Baskoro Yudhoyono, putra Presiden SBY), Siti Noor Azima Rajasa (menikah dengan Audy Satria Wardhana, putra dari Bambang Irawan dan Siti Ichtiyati) serta Rasyid Amrullah Rajasa. Nama Rasyid, putera bungsu Hatta sempat tenar awal tahun lalu karena pernah terlibat kecelakaan lalu lintas yang menewaskan dua orang di ruas tol Jagorawi.

Dalam situs pribadinya, Hatta digambarkan sebagai sosok yang hangat dengan keluarga. Ia dikenal sebagai pribadi penyayang. Hatta, juga isterinya memiliki hobi mengoleksi lukisan. Selain itu, ia juga gemar berolahraga. Salah satunya adalah voli. Hatta mengaku dirinya merupakan atlet voli semenjak duduk di bangku SMP. Selain itu, ia juga suka dengan olahraga pencak silat. Hal itu membuatnya pernah dikukuhkan sebagai Anggota Dewan Kehormatan Pencak Silat Nasional pada 2012 silam.

Hatta merupakan luluasan Insinyur Teknik Perminyakan Angkatan 1973 di  Institut Teknologi Bandung (ITB). Usai kuliah, ia pernah bekerja sebagai Teknisi Lapangan PT Bina Patra Jaya (1977-78) serta Wakil Manager teknis PT Meta Epsi (1980-83).

Puncak karir Hatta dalam bisnis terwujud kala dirinya menjadi Presiden Direktur Arthindo selama 18 tahun (1982-2000). Arthindo adalah perusahan yang ia dirikan bersama sejumlah rekan.

Tahun 1999, Hatta kemudian memilih banting stir, meninggalkan dunia bisnis dan memasuki dunia politik. Ia berlabuh di PAN. Pada mulanya ia menjabat Ketua Departemen Sumber Daya Alam dan Energi. Pada Pemilu 1999 ia maju merebut kursi legislatif dari daerah pemilihan Bandung, Jawa Barat dan lolos ke Senayan.

Di lembaga legislatif, ia terpilih menjadi Ketua Fraksi Reformasi DPR (1999-2000). Posisinya di PAN juga terus melejit. Dalam kongres I PAN, ia terpilih sebagai Sekretaris Jenderal partai periode 2000-2005.  Pada 9 Januari 2010, secara aklamasi, Hatta Rajasa terpilih sebagai Ketua Umum DPP PAN periode 2010-2015 menggantikan Soetrisno Bachir.

Karirnya di dunia politik terus menanjak, setelah dirinya diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi(2001-2004) pada Kabinet Gotong-Royong era Presiden Megawati Soekarnoputri.

Hatta terkenal dengan kepiawian dalam hal lobi politik. Pada pemilu 2004, ia merapat ke Partai Demokrat pimpinan SBY yang kalah itu sedang naik daun. Hal itupun berbuah manis bagi karirnya. Dalam Kabinet Indonesian Bersatu I, Hatta dipilih menjadi Menteri Perhubungan (2004-2007) dan kemudian bergeser menjadi Menteri Sekretaris Negara (2007-2009).

Pada Pemilu 2009, Hatta kembali menjadi pendukung berat SBY. Sebelum penentuan calon wakil presiden dari Demokrat, ia bahkan digadang-gadang bakal mendampingi SBY. Namun, pada injury time, SBY lebih memilih Boediono.

Hatta pun kebagian menjadi ketua tim pemenang SBY-Boediono. Perannya yang besar dalam Pemilu yang diwarnai kemenangan telak Demokrat itu membuat ia kemudian ditunjuk menjadi Menteri Koordinator Perekonomian sejak 22 Oktober 2009.

Dalam Rakernas PAN pada 10 – 11 Deseber 2011, ia telah didaulat menjadi satu-satunya calon presiden yang akan diusung PAN pada Pilpres mendatang.

Bisnis

Nama Hatta sangat dekat dengan Arthindo Utama. Perusahan ini  ia dirikan bersama Bambang Sukarsono, Alimin Abdullah dan Affan Machmud pada 15 Oktober 1982.  Sejak memutuskan terjun dalam dunia politik, Hatta mewariskan kendali perusahan ini kepada anaknya Mohammad Reza Ihsan Rajasa yang memegang posisi direktur.

Dalam struktur perusahan ini terdapat sejumlah figur penting PAN, yaitu Ahmad Hafizt Tohir (adi kandung Hatta, salah satu Ketua DPP PAN) serta Jhon Erizal (CEO yang juga bendahara umum PAN).

Apa bisnis Arthindo? Berdasarkan informasi pada situsnya, awalnya perusahan ini hanya bergerak di bidang agrobisnis, namun dengan cepat merambah ke bidang jasa operasi untuk oil rig. Salah satu spesialisasinya adalah penyedia alat berat untuk operasi industri minyak dan gas.

Perusahaan ini cukup lama mendapatkan proyek “workover rig” dari PT Caltex pada 2001, sebelum akhirnya perusahaan minyak itu berganti nama jadi Chevron Pacific Indonesia.

Sejak Juli 2011, Arthindo berkantor di Palma One lt 11, suite 1104 dan 1106, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Pada 27 April 2010, Atrhindo utama adalah beberapa dari partisipan dalam Slovak-Indonesian Business Forum yang diselenggarakan di hotel Falkensteiner, Bratislava, Slovakia.

Kini, Arthindo juga sedang agresif untuk proyek Coal Bed Methane (CBM). Pengembangan renewable energi tersebut, menjadi sangat menarik terkait dengan makin berkurangnya kapasitas produksi bahan bakar minyak berbasis fosil.

Arthindo memiliki PLTG Sengeti di Jambi dengan kapasitas 28 MW.  Perusahan ini juga merupakan pemegang saham 20 % Artha Daya Coalindo (perusahan penyedia batubara dan bisnis transportasi batubara yang 60 persen sahamnya dimiliki PT Indonesia Power dan 20 persen lagi oleh PT Desire Pratama Line).

Terkait Reza, Direktur Arthindo, putra sulung Hatta ini menikah dengan RA Kusuma Anggriani pada Juli 2007, saudari dari Djoko Ramiadji, Mantan Direktur PT Marga Nurindo. Ramiadji pernah terindikasi korupsi dengan total Rp 209 miliar beberapa tahun lalu dalam proyek Jalan Tol Lingkar Luar (Jakarta Outer Ring Road/JORR).

Namun, anehnya, pada 11 Juni 2003  Jaksa Agung MA Rachman menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) bagi Ramiadji,  walaupun 2 tersangka lain dalam kasus ini dari PT Hutama Karya yaitu Tjokorda Raka Sukawati sebagai Dirut dan Thamrin Tanjung sebagai Koordinator Proyek JORR kemudian dipenjara.

Kontroversi

Masa suram Hatta dalam karir di pemerintahan terjadi saat ia menjabat sebagai Menteri Perhubungan. Kala itu, terjadi sejumlah peristiwa kecelakaan transportasi yang menonjol, antara lain yang menimpa Mandala Airlines, kecelakaan KM Digoel, musibah KM Senopati Nusantara, jatuhnya pesawat Adam Air serta kejadiaan naas yang menimpa Garuda Indonesia.

Masa kepemimpinan Hatta juga disertai dengan kasus korupsi yang melibatkan orang dekatnya. Salah satunya adalah kasus yang melibatkan PT Power Telecom (Powertel).

Direktur Powertel adalah Hafidzt Tohir, dengan komisaris utama Hartanto Edhie Wibowo (adik bungsu Ani Yudhoyono) dan Dicky Tjokrosaputro (adalah putra Beny Djokosaputro, trader pasar saham ternama) sebagai CEO.  Petinggi lain Powertel adalah Retno Cahyaningtyas, adik Ibu Ani Yudhoyono yang menikah dengan mantan Dirut BNI Gatot Mudianto Suwondo. Retno juga memiliki kerja sama dengan isteri Hatta, Okke Hatta Rajasa dalam kepengurusan Cinta Tenun Indonesia (CTI) yang diketuai Okke. Pendirian CTI diresmikan oleh Ibu Ani pada 28 Agustus 2008.

Waktu Hatta Rajasa menjadi Menteri Perhubungan, Powertel (perusahan yang berkantor di Jakarta dengan 6 cabang di Pulai Jawa) mendapat berbagai proyek dari PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), seperti pembangunan double track jurusan Tanah Abang-Serpong bernilai Rp 333 miliar (biaya transportasi pengiriman kereta), pengadaan 16 unit kereta api listrik (KRL) bekas dari Jepang bernilai Rp 44,5 miliar serta pengadaan jaringan serat optic di kawasan Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Dalam proyek pengadaan KRL bekas dari Jepang pada 2006-2007 itu, terjadi dugaan mark-up yang merugikan negara Rp 11 miliar. Kasus ini menyeret nama mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Departemen Perhubungan (sekarang bernama Kementerian Perhubungan) Soemino Eko Saputro.

Dalam kasus tersebut, adik Hatta, Ahmad Hafiz Tohir dan John Erizal diduga ikut bermain karena mereka “diutus” Hatta bersama Soemino ke Jepang saat mengurus pengiriman kereta api bekas itu. Penyidik KPK sudah pernah meminta keterangan Hatta  pada 2011 lalu terkait keikutsertaan Hafidzt dan John.

Menurut pengakuan Soemino, melalui mantan penasihat hukumnya Tumpal Hutabarat, Ahmad Hafiz, sengaja diikutsertakan Hatta dalam survei proyek tersebut bersama John Erizal. Namun Hatta membantah kepergian adiknya ke Jepang untuk ikut survei proyek tersebut. Menurutnya, kepergian adiknya ke Jepang saat itu, untuk keperluan lain.

Padahal, menurut keterangan Soemino, pada Oktober 2005, ketika Hatta mengundang untuk mendiskusikan penggunaan kereta api impor dari Jepang, beberapa nama di luar kementerian, seperti Agung Tobing, Dicky Djokosaputro dan Jhon Erizal yang merupakan wakil dari PT Powertel ikut hadir.

Selain itu, pada 12-15 November 2005, Jhon Erizal, Agung Tobing, Hartanto, Hafiz Tohir dan Dicki berkunjung ke Jepang dengan semua biaya ditanggung oleh Sumitomo Joint Operation, perusahan asal Jepang. Pada 13-18 Januari 2006, Soemino dan tim Powertel kembali mengunjungan Jepang dan dibiayai Sumitomo.

Namun sayangnya, hingga kini keterlibatan Powertel dalam mengeksekusi proyek ini belum diusut.

Hatta dan Ideologi PAN

Kita tinggalkan pembicaraan tentang Hatta dan kontroversi dalam karirnya. Ulasan ini akan menelisisik bagaimana ia menahkodai PAN, partai yang semula berideologi Islam.

Sejak dinahkodai oleh Hatta, identitas Islamis PAN semakin kabur. Di tangan Hatta, kekuatan ideologis maupun pertentangan ideologi PAN dinafikan. Hatta lebih banyak berbicara soal peran PAN bagi kesejahteraan Indonesia. Dan nyaris, perdebatan soal ideologi hilang sama sekali.

Hal ini memang logis, sebab bila Hatta berbicara soal identitas Islamis PAN, maka segmentasi pemilihnya masih sebatas dari kalangan Muhammadiyah. Basis massa ini sangat kecil bila dibandingkan dengan ambisi besar Hatta yang ingin menjadi calon presiden (Capres) pada 2014 mendatang. Atau, jika Hatta hanya menekankan identitas PAN sebagai partai Islam modernis maka dalam  peta segmentasi politik nasional, posisi PAN berada pada ruang yang masih sempit.

Saat ditanya wartawan terkait ideologi PAN, Hatta pun sama sekali tidak menegaskan identitas Islam PAN. Bahkan, Hatta seolah-olah mengemas ideologi baru PAN yang merupakan perpaduan baik dari sosialisme, kapitalis maupun Pancasila.”Kalo mau ditanya PAN itu ideologinya demokrasi, keadilan dan kesejahteraan. Bila ideologi (negara) kita ya ideologi Pancasila. Kalo negara saja punya ideologi Pancasila, maka partai politik itu adalah mengarah ke Pancasila itu. Itulah the basic principle dari kehidupan kita,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 28 Mei 2013.

Ketidakpedulian pada ideologi, memang menguntungkan sikap Hatta ini. Demokrasi Indonesia terkenal dengan pragmatisme akut. Koalisi pun dibangun berdasarkan kepentingan, bukan idealisme. Pertarungan ideologi bukan lagi menjadi basis kesadaran elit parpol maupun masyarakat. Bahkan, yang dominan adalah, mengesampingkan ideologi demi membentuk kartel politik dan ekonomi.

Upaya mengesampingkan ideologi pun kelihatan jelas dilakukan PAN menjelang Pemilu 2014. PAN termasuk partai yang menempatkan banyak artis dalam daftar caleg mereka, seperti Anang Hermansyah, Hengky Kurniawan, Eko Patrio, Desy Ratnasari, Ikang Fawzi, Primus Yustisio, Lucky Hakim, Dwiki Darmawan dan Jeremy Thomas.

Selain artis, PAN juga menggaet sejumlah mantan atlet yang berlaga di Olimpiade, antara lain, Yayuk Basuki (tenis), Krisna Bayu (judo), La Paene Masara (tinju), Nurfitriana (panahan), Selvyana Sofyan Hosen (menembak) dan Emma Tahapary (atletik).

Hal yang pasti adalah, Hatta ingin PAN menang pada 2014. Tujuannya, sukses di Pemilu Legislatif dan sukses pada pencapresan. Mungkin, Hatta menilai, jika ideologi PAN yang Islamis-modernis tetap dikedepankan, apakah kalangan Muhammadiyah akan solid mendukungnya menjadi capres?

Jadi Capres?

Jika jeli membaca peta politik dan dukungan public menjelang Pemilu, tampaknya mimpi besar Hatta untuk menjadi capres akan sulit terwujud. Peta persaingan menunjukkan kuatnya partai besar seperti PDIP dan Golkar dan Gerindra. Sementara Demokrat sudah menunjukkan tanda-tanda akan beralih ke posisi partai menengah,bersama PAN, Hanura, Nasdem, PPP dan lain-lain.

Peluang PAN hanya terbuka untuk menjadi pemimpin kelompok partai menengah serta mendorong Hatta sebagai capres. Namun, hal ini masih tampak sulit mendapat dukungan penuh. Tokoh-tokoh seperti Joko Widodo, Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Jusuf Kallah masih terlalu tangguh untuk Hatta. (Tim Riset BHC)

LEAVE A REPLY