Meski bukan termasuk bagian dari kubu internal partai, namun Gita Wirjawan digadang-gadang sebagai kandidat kuat Capres dari Partai Demokrat untuk Pilpres 2014. Pamornya mampu mengalahkan kandidat lain dari internal Demokrat, sebut saja Marzuki Alie, cs. Bagaimana sepak terjang pebisnis dan politikus yang memiliki total kekayaan US$40 juta ini? Dan, bagaimana relasinya dengan keluarga Cikeas?

Menurut hasil survei sejumlah lembaga, elektabilitas Gita tidak terlalu menjanjikan. Misalnya saja, survei dari Lembaga Survei Nasional (LSN) yang mengukur tingkat elektabilitas dari sejumlah figur peserta konvensi Capres Demokrat pada Agustus mendatang menempatkan Gita pada posisi ke-6 dengan tingkat elektabilitas 3,2 persen, jauh di bawah Jusuf Kalla di urutan teratas  dengan 21,2 persen. Figur lain, seperti Dahlan Iskan, Mahfud MD, Ani Yudhoyono dan Marzuki Alie masih menggungguli Gita dalam survei yang dirilis 16 Juli lalu itu.

Survei lain dari Institute for Transformation Studies (Intrans) yang mengukur tingkat elektabilitas kandidat Capres setiap partai, Gita berada di posisi 10, di bawah Jokowi, Jusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Wiranto, Mahfud MD, Surya Paloh dan Dahlan Iskan.

Namun, fakta demikian tidak menyurutkan optimisme sebagian kubuh internal Demokrat terhadap Gita. Menurut mereka, Gita sudah memenuhi unsur untuk menjadi Capres ideal. “Politik itu adalah pertarungan yang cukup berat. Seorang bakal Capres harus memiliki elektabilitas tinggi, wawasan ekonomi, visi yang relevan dengan Indonesia ke depan dan tampilan orang tersebut. Saya lihat Gita memenuhi kriteria ini,” demikian kata Ketua DPP Demokrat Kastorius Sinaga.

Sutan Bhatoegana, petinggi lain Demokrat bahkan mengatakan, Gita akan bisa menjadi seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang kini menjadi Ketua Umum.  “Smart, pintar, ganteng dan berani,” puji Sutan.

Gita sendiri pun sudah eksplisit menyatakan niatnya menjadi Capres. “Saya siap bersaing dengan Pak Jokowi”, katanya, pada 18 Mei lalu menyikapi hasil survei elektabilitas figur yang menempatkan Jokowi hampir selalu pada posisi teratas.

Pertanyannya sekarang, mengapa sosok Gita begitu memikat Demokrat? Mengapa Marzuki Alie, cs kalah pamor dengan figure ini? Mari kita telusuri jawabannya dengan mengenali latar belakang tokoh ini, relasinya dengan kubuh Cikeas, berikut bisnis dan polemik yang belakangan dihadapi dan bisa  saja menjadi benalu bagi asanya menjadi Capres.

Keluarga

Gita lahir di Jakarta, pada 21, September 1965 dari keluarga terdidik. Ayahnya, Wirjawan Djojosoegito, adalah seorang dokter yang memiliki kontribusi penting untuk Indonesia. Ia termasuk tokoh yang memperjuangkan Indonesia masuk dalam World Health Organization (WHO) dan kemudian menjadi Perwakilan Indonesia untuk WHO pada tahun 1960-an. Ibunya, Paula Warokka, berasal dari sebuah keluarga Katolik di Munahasa, Sulawesi Tenggara. Keluarga ini dikenal cukup pluralis.

Gita merupakan bungsu dari 5 bersaudara. Saudara tertuanya adalah Dian Wirjawan, CEO Danareksa dan saat ini aktif dalam bisnis restoran. Dian memiliki relasi cukup dekat dengan Almarhum Gus Dur yang kemudian banyak mempengaruhi cara pandang dan cara berpikirnya.

Saudara lain Gita adalah Wibowo S Wirjawan, kini menduduki posisi sebagai CEO Jakarta International Container Port. Sebelumnya, Wibowo menjabat sebagai Kepala Deputi BPMIGAS, yang sekarang berubah menjadi SKK Migas. Rianto Ahmadi Djojosoegito adalah saudara lain Gita, yang kini menjabat sebagai Direktur  Allianz. Gita hanya memiliki satu saudari, yaitu Marina Wirjawan.

Gita menikah dengan Yasmin Stamboel, saudari dari Edwin Stamboel yang sekarang menjadi komisaris di PT Ancora Resources, sebuah perusahaan yang dikembangkan dan dikontrol Gita.

Karier

Gita memulai kariernya dengan bekerja di Citibank setelah ia menempuh pendidikan S-1 di Kennedy School of Government, Harvard University pada 1992 dengan jurusan Administrasi Bisnis. Pada 1999, ia melanjutkan kuliah S-2 jurusan Administrasi Publik di Harvard University dan lulus pada 2000. Setelah itu, hingga 2004, ia bekerja di Goldman Sachs Singapura, bank yang didirikan Marcus Goldman, banker asal Amerika Serikat yang sangat populer dalam dunia bisnis.

Pada 2005, Gita pindah ke ST Telemedia Singapura, dimana ia terlibat dalam divestasi kontroversial Indosat (ISAT) ke ST Telemedia. Setelah sukses mengakusisi Indosat, ST Telemedia menetapkan Gita sebagai Wakil Presiden Senior untuk pengembangan bisnis internasional. Namun, posisi tersebut ia tempati hanya dalam waktu setahun.

Tahun 2006-2008, Gita kemudian bekerja di JP Morgan Indonesia sebagai direktur utama. Selama di JP Morgan ia memiliki relasi dekat dengan Felippe Calderon, Presiden Mexico, yang adalah teman kelasnya di Harvard. Gita membantu mengakiri aribtrase Cemex melawan pemerintah Indonesia dalam relasinya dengan saham PT Semen Gresik (SMGR) Tbk. Saat itu, JP Morgan menjadi penasihat Cemex untuk mendivestasikan saham ke kelompok investor yang mendapat pendanaan dari Peter Sondakh (Rajawali Corporation).

Selain itu, Gita sempat menjadi salah satu komisaris PT Pertamina, sebelum akhirnya meninggalkan posisi tersebut pada 2010.

Bisnis

Sepak terjang Gita di dunia bisnis dimulai dengan PT Ancora Group yang ia dirikan bersama beberapa investor pada 2008.

Ancora Indonesia Resources (OKAS), melalui sejumlah anak perusahaannya bergerak di bidang pertambangan, perdagangan, pengangkutan, pertanian, industri, konstruksi, dan jasa. Berdasarkan data per Juni 2011, OKAS memiliki kapital pasar sebesar Rp 503 miliar dengan total aset Rp1.3 triliun.

OKAS mengakusisi Bormindo Nusantara (kontraktor pemboran) dan TD Resources, sebuah perusahaan yang telah mengkonversikan sahamnya ke OKAS. OKAS juga telah mengakusisi Multi Nitrotama Kimia (MNK), penyuplai bahan-bahan peledak untuk perusahaan-perusahaan tambang, termasuk ke Freeport dan Newmont, Kideco Jaya Agung (Indika-Samtan), Saptaindra (Adaro Group), Pamapersada (Astra Group) dan sebagainya.  MNK juga termasuk pesaing utama Orica Mining Service, perusahaan milik pengusaha Australia yang sekarang membuka ammonium nitrate di Bontang, Kalimantan Timur.

OKAS terafiliasi dengan Ancora Capital Management (Asia) Ltd (Ancora Capital), perusahaan investasi yang berkedudukan di Hongkong, di mana Gita adalah salah satu pendiri dan pemilik saham terbesar.

Ancora juga menjadi salah satu perusahaan yang membantu Group Bakrie selama krisis 2008-2009. Ancora dilaporkan memiliki profit yang signifikan dari hasil deal repo dengan Group Bakrie. Ancora membayar utang BUMI Resources ke JP Morgan (US$75 juta). Sebagai kompensasinya, Ancora memperoleh 5 persen saham PT Bumi Resources Tbk milik Bakrie & Brothers.

Selain itu, Ancora terlibat dalam LBO Apexindo Pratama Duta (APEX) oleh Mitra International Resources (Tito Sulistyo). Group itu melakukan back-door listing dari  Nusantara Infrastructure (META), sebuah perusahaan yang dikontrol Bosowa Group (perusahaan keluarga Jusuf Kalla). Peter Sondakh (Rajawali Corp), sekarang menjadi pemegang saham utama di META.

Kiprah Sebagai Menteri

Gita mengambil jarak untuk tidak terlibat langsung dalam bisnisnya pasca ditunjuk sebagai  Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Karirnya menanjang terus, sehingga akhirnya dipilih menjadi Menteri Perdagangan (2011-sekarang).

Gebrakannya yang cukup positif namun miskin implementasi selama menduduki kursi menteri adalah penetapan Peraturan Menteri Perdagangan tentang pembatasan frenchise waralaba. Aturan itu menyatakan, satu pemilik hanya diperbolehkan memiliki maksimal 250 outlet. Aturan ini cukup mengena jantung pebisnis retail, seperti Indomart (Salim Group), Alfamart (Tjairul Tanjung), MacDonald dan sederet pebisnis lain.

Selain itu, Gita aktif mengakampanyekan pembatasan ekspor bahan mineral mulai tahun 2014 mendatang yang berimplikasi pada perusahaan besar, seperti Freeport, Newmont, Adaro Resources (Boy Tohir), KPC, Arutmin (Bakrie Group) dan lain-lain.

Gita juga berdiskusi intens dengan Presiden SBY tentang perdagangan bebas fair trade. Isu ini terkait langsung dengan Free Trade Agreements (FTAs) yang telah ditandatangani pada level multilateral dan bilateral.

Dengan Cikeas

Gita memiliki hubungan dekat dengan sejumlah politisi, sebut saja Jusuf Kalla. Dan, belakangan, ia memiliki relasi dekat dengan keluarga Cikeas dan beberapa figur dalam militer.

Terkait hubungan dengan keluarga Cikeas, Gita-lah yang mengatur beasiswa Agus Harimurti Yudhoyono, putra Presiden SBY untuk masuk ke Barkeley University, AS. Ia juga membantu Ibu Ani Yudhoyono untuk pengiriman satu ton buku dari Sabre Foundation ke Indonesia pada September 2009.

Kehebatan Gita yang dikenal cerdas membuat SBY terpesona, apalagi keduanya memiliki hobi yang sama di bidang musik. Saat tampil di  Jakarta Jazz Festival beberapa waktu lalu, Gita menyanyikan lagu ciptaan SBY.

Sinyal bahwa Cikeas akan mengusung Gita sebagai Capres tampaknya akan terbuka lebar, mengingat dalam pidato saat HUT Demokrat pada 2011 lalu, SBY mengatakan, Capres Demokrat 2014 bukanlah dari keluarganya, tetapi dari tokoh muda yang profesional dan cerdas.

Polemik

Perusahan milik Gita disinyalir terlibat dalam sengketa pajak. Ketua Komite Kerja (Panja Pajak) DPR, Tjatur Sapto Edy dari Fraksi PAN mengatakan, Panja Mafia pajak menginvestigasi dugaan korupsi pajak yang dilakukan PT Ancora Mining Services.

Ada juga yang mengkiritisi posisi Gita sebagai komisaris PT Pertamina. Kritik lain ditujukan pada perannya dalam divestasi Indosat. Beberapa politisi menyebut itu syarat dengan conflict of interest, karena Bormindo melakukan deal bisnis dengan Pertamina.

Belakangan, Gita lewat perusahanya PT Ancora Land dikabarkan terlibat dalam masalah sengketa lahan seluas 210.184 meter persegi atau sekitar 21 hektare  di Fatmawati, Jakarta Barat.  Gita Wirjawan dan Cahyadi Kumala alias Swie Teng, pengusaha properti papan atas disebut-sebut menggandeng bos PT Artha Graha, Tomy Winata yang sama-sama bernafsu menguasai lahan yang kini harganya melambung dan ditaksir mencapai Rp 2,1 trilyun itu.

Peluang

Kubuh Demokrat yang pro Gita, tentu yakin, dengan posisinya sekarang sebagai Menteri Perdagangan, ditambah dengan kompetensinya yang sudah teruji, terutama di bidang bisnis dan kekayaan yang berlimpah, Gita, akan bisa menjadi Presiden Indonesia berikutnya.

Terlepas dari itu semua, Gita mesti terus mengukur kemampuan sebelum memantapkan diri sebagai calon presiden (Capres).  Selama berada dikursi birokrasi, kiprah Gita belum terlalu kedengaran gaungnya. Publik belum mengetahui program-program fenomenalnya yang membuat dia diperhitungkan sebagai capres.

Bila tidak, jalan terjal akan dilalui Gita, apalagi, tidak semua kader Demokrat mengamini kehadirannya, yang dianggap, ‘bukan kader sejati Demokrat’, tapi tiba-tiba langsung merebut kursi Capres, hanya karena kedekatannya dengan keluarga Cikeas. Apalagi, Pramono Edhi Wibowo, besan SBY juga santer terdengar menjadi salah satu opsi Capres Demokrat. (Tim Riset BHC)

LEAVE A REPLY