Ada kejadian menarik ketika Vitalia Shesya, model majalah dewasa itu, tampil sebagai saksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Senin, 16 September 2013. Saat hakim menanyakan nama lengkapnya, ia menyebut nama “Andi Novitalia Shesya”, dengan nada suara seperti sedang mendesah. Gaya bicara Vitalia itu lantas membuat ruang sidang menjadi “hot”. Ada yang cekikikan, tertawa, hingga bersuit-suitan.

[dropcap]M[/dropcap]odel cantik nan seksi ini memang sedang terlibat dalam kasus suap impor daging sapi di Kementerian Pertanian yang menyeret Ahmad Fathanah, orang dekat mantan Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Lutfi Hasan Isaaq. Lutfi dan Fathanah kini mendekam di ruang tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kasus ini yang belakangan juga menyeret nama sejumlah petinggi PKS seperti Ketua Dewan Syuro Hilmi Aminuddin, Ketua PKS Anis Matta dan Menteri Pertanian Suswono menyebabkan elektabilitas partai berbasis Islam itu terjun bebas.

Keterlibatan Vitalia dalam kasus ini terkait dengan adanya dugaan bahwa Fathanah memberinya sejumlah barang dan uang, antara lain sebuah gelang berlian rose gold dengan berat 9,10 gram seharga Rp 37,5 juta dan sebuah gelang white gold, cincin berlian 4,10 gram seharga Rp 20 juta, serta kalung (3,03 gram) dan liontin (2,87 gram) seharga Rp 16,9 juta.

Selain perhiasan, Vitalia juga sempat dibelikan satu unit mobil Honda Jazz putih bernomor polisi B 15 VTA. Mobil itu dibeli tunai di showroom mobil PT Honda Prospect Motor seharga Rp 225 juta.

Motif di balik barang dan uang itu masih samar-samar. Vitalia menampik bahwa pemberian itu, yang dianggap sebagai bentuk tindak pidana pencucian uang oleh KPK, sebagai imbalan atas jalinan kasihnya dengan Fathanah.

Bukan Hanya Vitalia

Vitalia hanya salah satu dari sejumlah perempuan yang dipanggil KPK terkait kasus suap impor daging sapi. Sebelumnya, KPK juga memanggil Siti Khadijah Azhari, Ayu Azhari, penyanyi dangdut Tri Kurnia dan istri Fathanah, Sefti Sanustika.

Memang, cerita soal penguasaha yang dililit persoalan dengan perempuan tentu saja bukan cerita baru. Penguasa di sini diartikan sebagai mereka yang memiliki kekuatan untuk mengontrol yang lain karena memiliki jabatan, privelese dan uang.

Hingga kini, sudah terpatri banyak kasus yang melibatkan skandal para penguasa dengan sejumlah perempuan. Contoh teranyar misalnya, pernikahan kilat dalam waktu 4 hari Aceng Fikri, mantan Bupati Garut, Jawa Barat dengan Fany Octora (18) yang berujung pada pemakzulan Aceng dari posisi orang nomor satu di Garut. Mahkamah Agung (MA) menyatakan Aceng pantas dimakzulkan karena melanggar peraturan perundang-undangan.

Aceng yang mengaku menceraikan Fany karena merasa dibohongi terkait status keperawanan isteri mudanya itu mengalami masa suram dalam riwayat politiknya.

Selain itu, pada 2008 silam, politisi lain yang tersandung perkara birahi adalah Al Amien Nur Nasution. Kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu tertangkap KPK di Hotel Ritz Carlton saat ia sedang bersama seorang mahasiswi Universitas Pakuan Bogor, selingkuhannya. Karir politik Al Amien pun meredup. Dia juga bercerai dengan istrinya, pedangdut Kristina.

Skandal lainnya melibatkan politisi PDI Perjuangan, Max Moein. Karir politik Max tamat setelah aksi pelecehan seksual dengan mantan sekretaris pribadinya, Dessy Firdiyanti mencuat. Max pun dilaporkan ke Badan Kehormatan DPR dan pada 9 September 2008, ia resmi diberhentikan.

Sebelumnya, pada 2006, mencuat juga skandal Yahya Zaini, Ketua DPP Partai Golkar Bidang Agama, dengan pedangdut Maria Eva. Video porno keduanya tersebar ke publik melalui telepon seluler dan internet.

Tak hanya di Indonesia, skandal juga kerap mewarnai kehidupan para penguasa dunia. Bill Clinton, mantan Presiden Amerika Serikat pernah tersangkut kasus perselingkuhan dengan staf gedung putih Monica Lewinsky. Beruntung Clinton lolos dari pemakzulan di pengadilan Senat pada Februari 1999. Clinton pun meminta maaf kepada rakyat AS karena perselingkuhan itu.

Di Italia, mantan perdana menteri Silvio Berlusconi juga harus berhadapan dengan pengadilan lantaran dituduh melakukan hubungan seks dengan Karima El Mahroug, seorang gadis di bawah umur.

Desahan: Representasi Kenikmatan Tubuh

Cerita-cerita di atas menggambarkan relasi yang begitu dekat antara penguasa dengan perempuan.

Kembali ke Vitalia. Desahan Vitalia di hadapan hakim Pengadilan Tipikor sedikit memperjelas jalan menuju kebenaran asumsi publik bahwa Vitalia menggunakan tubuhnya untuk meraih uang Fathanah. Ini menjadi jawaban atas pertanyaan, mengapa begitu banyak penguasa yang menghabiskan uang di sekitar wanita-wanita cantik.

Desahan Vitalia, adalah representasi dari daya tarik fisik perempuan yang kerap membuat laki-laki mabuk kepalang dan akhirnya tak tahu diri, bahkan dengan tanpa malu menggunakan uang rakyat untuk merengkuh kenikmatan.

Tanpa bermaksud merendahkan desahan Vitalia, karena itu tentu adalah hal alamiah bagi seorang perempuan, tubuh oleh sebagian perempuan dipakai untuk mendapatkan apa yang diinginkan, bisa barang, bisa juga uang.

Daya tarik seksual perempuan memang tidak hanya tampak dalam wajah yang cantik, kulit mulus, bibir tipis, goyangan erotis dan tubuh seksi. Kadang, daya tarik itu terungkap dalam kelembutan gerakan, desahan dan rintihan suara yang menarik.

Mereka yang memiliki kuasa akan selalu menatap perempuan sebagai objek yang bisa dipakai, digunakan untuk memuas nafsu. Penguasa akan memaknai setiap daya tarik seroang perempuan sebagai peluang untuk mencicipi kenikmatan, untuk melayani hasrat. Urusan hasrat, tentu saja bukan monopoli mereka. Tapi, bagi mereka, peluang untuk memuaskan hasrat itu menjadi sangat mungkin dioptimalkan, karena ada intrumen yang bisa dengan mudah dipakai: uang. Relasi yang terbangun pun bersifat dominatif.

Relasi dominatif itu – meminjam gagasan pemikiran filsuf sosial kritis Yahudi-Jerman Karl Marx – menggambarkan eksploitasi oleh penguasa (borjuis) terhadap perempuan yang menjual kemolekan tubuh (proletar) akibat desakan kebutuhan yang menjadikan tubuh sebagai komoditas. Hanya, di sini ada sedikit perbedaan. Menjual tubuh bukan sebagai jalan terakhir yang dengan berat hati harus dipilih, tapi sengaja dijadikan sebagai satu-satunya jalan.

Perempuan pada dasarnya memiliki martabat sama sebagai manusia. Perempuan bukanlah objek. Tetapi  martabat seorang perempuan akan mengalami keruntuhan ketika ia menghamba pada uang.

Sebaliknya, untuk penguasa, tantanganya adalah tahu diri, tak menganggap diri sebagai raja yang bisa membeli apapun, termasuk perempuan.

Sejarah sudah membuktikan, mereka yang terlibat skandal akan menemukan akhir dari perjalanan karir. Ini gejala alamiah. (Tim Riset BHC).

LEAVE A REPLY