Anak buah mantan Ketua Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais, diduga sedang mengincar saham perusahaan timah kedua terbesar, PT Koba Tin. Edi Yosfi kader PAN di bawah pimpinan Hatta Rajasa, adalah pebisnis yang mengincar saham Koba Tin. Edi adalah orang dekat Amien Rais yang sedang mengkritik Gubernur DKI, Joko Widodo (Jokowi). Amien meragukan nasionalisme Jokowi.

[dropcap]B[/dropcap]eberapa eksekutif bisnis yang kami mintai pendapat, mengatakan jangan sampai Amien Rais itu nasionalismenya karbitan saja. “Kan banyak sahabat Amien yang berebut saham di perusahaan-perusahaan tambang”.

Kita kembali ke Koba Tin. Kontrak Karya (KK) Koba Tin seharusnya telah berakhir pada 31 Maret 2013 dan diperpanjang sampai 31 Agustus 2013. Namun, sampai sekarang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik, belum juga memutuskan nasib Koba Tin. Pertemuan antara pemegang saham dan pemerintah (Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Bangka Belitung) dijadwalkan akan berlangsung pekan ini.

Padahal, Koba Tin adalah perusahaan skala menangah dan hanya memiliki luas lahan sekitar 41.000 hektar. Tambang timah di Pulau Bangka itu tak sebesar Freeport, Newmont, Vale dan Weda Bay. Namun, keputusan seputar renegosiasi kelihatan sangat alot. Sudah tercium ada aroma perebutan dalam internal pemerintahan SBY-Boediono.

Jero Wacik misalnya, telah membentuk tim independen seputar kontrak Koba Tin. Tim independen ini diketuai Thobrani Alwi (orang kepercayaan Jero dan mantan Direktur PT Timah Tbk) dan Dirjen Minerba, Thamrin Sihite. Thamrin mengatakan, kontrak karya Koba Tin akan berubah menjadi Ijin Usaha Khusus (IUPK).

Tim Jero ini mendapat dukungan dari partner Malaysia Smelthing Corp (MSC), PT Timah Tbk. Sebagaimana diketahui, komposisi pemegang saham Koba Tin adalah MSC (75%) dan PT Timah Tbk (25 %).

Sukrisno, Direktur PT Timah Tbk mengatakan, alangkah baik jika pemerintah menghentikan masa kontrak Koba Tin, karena perusahaan itu merugi dan menumpuk banyak utang. Sementara tim renegosiasi kontrak menganjurkan agar Koba Tin diserahkan ke PT Timah dan Pemda Bangka-Belitung.

Namun, keinginan ini bisa menimbulkan oposisi keras dari internal pemerintahan, karena ada pebisnis lokal yang berniat mengambil-alih saham Koba Tin, yaitu Edi Yosfi. Edi tentu mendapat dukungan penuh dari Hatta Rajasa dalam kapasitasnya sebagai Menteri Kordinator Perekonomian. Hatta telah ditunjuk Presiden SBY sebagai ketua Tim Renegosiasi Kontrak pada tahun 2012 silam.

Media hari ini mengabarkan bahwa sejak tahun 2012, Edi sudah menjadi komisaris Koba Tin. Namun, penetapan Edi kabarnya tak disetujui Jero Wacik. Bergabungnya Edi sebagai komisaris, diikuti dengan kesepakatan MSC untuk melakukan divestasi saham di Bemban Corporation (yang mengontrol saham Koba Tin) ke PT Mega Multi Makmur.

Mega Multi Makmur adalah unit usaha Optima Synergy Resources Ltd, sebuah perusahaan yang dimiliki Edi. Edi sendiri telah mengakui kepemilikannya di perusahaan itu dan  tujuan berpatner dengan MSC di Koba Tin. (Tim Riset BHC)

LEAVE A REPLY