Harga kedelai menjulang tinggi, hingga mencapai Rp 10.000 per kg. Ini juga yang menyebabkan produsen tahu dan tempe protes serta sempat mogok produksi. Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, yang sekarang menjadi peserta calon Presiden dalam konvensi Partai Demokrat dianggap berada di balik isu kartel.

Ekonom-ekonom Institute for Development of Economics and Finenace (INDEF) mencurigai meningkatnya harga kedelai karena kartel. Perusahan-perusahaan yang dicurigai melakukan kartel adalah PT FKS Multi Agro Tbk, PT Gerbang Cahaya Utama dan PT Budi Sentosa. Tiga perusahaan ini dicurigai mengontrol 66.33 % impor kedelai.

FKS Multi Agro adalah yang terbesar dengan mengontrol 210.600 ton per tahun. Sementara Gerbang mengontrol 46.500 ton dan Budi Sentosa mengontrol 42.000 ton. Kartel tiga perusahaan itulah yang menyebabkan harga kedelai terbang tinggi.

Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) menyimpulkan Gita kemungkinan punya andil sehingga harga bahan baku tempe ini meroket.

Kursnarto, Direktur FKS mengatakan, meningkatnya harga kedelai karena tekanan terhadap nilai tukar rupiah. FKS mengklaim bahwa perusahaan mereka hanya mengontrol 80.000 ton kedelai dan hanya menjual pada harga 8.900 per kg.

Siapa FKS?

Pada tanggal 30 Juni 2013, total aset FKS mencapai US$310.9 juta, penjualan US$645.5 juta. Pada 6 bulan pertama tahun 2013 dan laba bersih US$2.9 juta turun signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ US$7.7 juta.

Orang-orang penting di FKS adalah Siswanta Atmadja, Yundi Lowana, Hiu Baron Setiawan Sumadi, Bong Kong Fui, Anand Kishore Bapat, Yu’san dan Kusnarto. Yu’san sebelumnya menjadi Kepala Deputi di BKPM, ketika Gita menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Sementara pemegang saham FKS adalah PT Era Investama Cemerlang yang mengontrol 72.92% dan PT Caturkartika Perdana yang mengontrol 10.42 %.

Klien utama FKS termasuk Central Pertiwi Bahari, Central Proteinaprima, Charoen Pokphand Indonesia, Bintang Jaya Proteina, Central Pangan Pertiwi, dan PT Mabar Feed Indonesia. (Tim Riset BHC)

 

LEAVE A REPLY