Partai Demokrat sedang sibuk mengurus konvensi untuk mengangkat citra partai dari keterpurukan. Nama-nama calon presiden yang ikut dalam konvensi pun mulai dibuka. Nama-nama itu, seperti Gita Wirajawan, Pramono Edhie Wibowo, Dahlan Iskan, Dino Patti Djalal, Mahfud MD dan Endriartono Sutarto. Namun, jika Gubernur DKI-Jakarta dicalonkan oleh PDIP, sia-sialah Partai Demokrat memoles diri untuk mengubah citra partai. Secantik apapun partai itu memoles dirinya dengan politik citra, Jokowi tak bisa dihentikan lagi jika Ketua Umum PDIP, Megawati, legowo mundur dari bursa pencalonan presiden 2014.

[dropcap]R[/dropcap]akyat di akar rumput tak mengenal Gita Wirajawan dan Pramono Edhie Wibowo. Apalagi Dino Patti Djalal, pasti sangat awam dikenal akar rumput. Sementara Jokowi? Tokoh fonemal ini sudah menjadi buah bibir rakyat kecil. Jokowi sudah dikenal luas di Jawa dan luar Jawa. Dia dikenal bukan karena politik citra, tetapi rakyat mengenal ketika Jokowi sukses mengeksekusi kebijakan. Jokowi sudah dikenal sejak menjadi Walikota Solo. Ia sangat dekat dengan “Wong Cilik”.

Hasil Jejak Pendapat Kompas (26/8/2013), menunjukkan rakyat sangat merindukan Jokowi menjadi calon Presiden 2014 mendatang. Elektabilitasnya meningkat tajam sebesar 32.5 %, meningkat dua kali lipat dibandingkan hasil Jejak Pendapat tahun 2012 sebesar 17.7 %.  Peningkatan elektabilitas itu tidak lepas dari berbagai kebijakan Jokowi. Jokowi sukses mengembalikan Pasar Tanah Abang dari berbagai kepentingan politik, bisnis dan para preman. Jokowi juga sukses menjadikan Waduk Pluit yang selama ini diangap kumuh, menjadi taman kota. Banyak sekali kebijakan Jokowi yang menyentuh Wong Cilik.

Kompetitor Jokowi, Prabowo hanya meningkat tipis menjadi 15.1 % dari 13.3 % pada tahun 2012. Sementara bos Jokowi, Megawati Soekarnoputri hanya menempati urutan ke-tiga sebesar 8 % atau turun dari 9.3 % pada periode 2012. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga mengalami penurunan dari 6.7% menjadi 4.5 % dan Ketua Umum Partai Golkar meningkat menjadi 8.8 % dari 5.9 % pada tahun 2012.

Pendukung Jokowi berasal dari berbagai lapisan masyarakat, media, Jawa dan luar Jawa, Muslim dan non-muslim, miskin dan kaya, cerdik-pandai dan rakyat tak terdidik dan warga kampung dan warga kota. Itu menunjukkan bahwa rakyat Indonesia merindukan pemimpin baru yang efektik mengeksekusi kebijakan, berintegritas dan tak mudah disandra kalangan elit politik dan bisnis.

Jika PDIP mencalonkan Jokowi pada Pemilu 2014, sangat mudah untuk diterima seluruh rakyat Indonesia. Megawati sudah mengirim pesan akan memagari Jokowi dari rayuan partai lain. Akhir pekan kemarin, Megawati juga mengatakan, akan menjaga dan mencalonkan kader muda dalam bursa pencalonan Presiden 2014. Ini menunjukkan signal bahwa Megawati, hanya menunggu waktu yang tepat meresmikan Jokowi sebagai calon Presiden 2014.

Kami menganjurkan agar PDIP tidak tergoda menanggapi secara serius pernyataan beberapa petinggi Partai Demokrat, yang ingin menawarkan Jokowi masuk bursa konvensi. Jokowi tak butuh konvensi. Kader yang masuk konvensi, hanya kader yang memiliki elektabilitas rendah. Bukan hanya itu, belum tentu juga Partai Demokrat masuk dalam nominasi partai yang bisa mencalonkan presiden tahun 2014. Ingat! Jika President Treshold di atas 20 %, Partai Demokrat bisa jadi tak bisa mencalonkan presiden sendiri, tetapi harus berkoalisi dengan partai lain. Jadi Partai Demokrat, jangan percaya diri dulu bisa mengusung calon Presiden sendiri.

Jokowi sudah sangat menjual bagi PDIP. Rayuan Partai Demokrat agar Jokowi masuk dalam bursa konvensi tak segampang yang dipikirkan partai itu. Jokowi adalah pemimpin berkarakter, sangat loyal dengan partai dan tak mudah tergiur dengan tawaran kekuasaan dari partai yang sudah diberi label korup itu.(Tim Riset BHC)

LEAVE A REPLY