Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo mengatakan bahwa Kernel Oil Pte Ltd (KOPL) yang tersangkut kasus penyuapan terhadap Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK) Migas, Rudi Rubiandini, tidak punya kaitan dengan wilayah kerja migas di Indonesia. 

[dropcap]S[/dropcap]ebagaimana kami beritakan sebelumnya, KOPL Indonesia adalah sebuah perusahaan trading. Narasumber kami menyebutkan KOPL bukan sekedar perusahaan trading, tetapi lebih jauh dari itu. Narasumber itu mengatakan, penangkapan Rudi barangkali menjadi awal peperangan melawan trader minyak. Barangkali benar juga komentar orang, alangkah bodohnya seorang Kepala SKK Migas hanya menerima uang suap senilai US$700.000.

KOPL Indonesia, PT Bintang Samudra Semesta (BSS), dan PT Asia Star International (ASI) terlibat dalam trading minyak.  KOPL terafiliasi dengan BSS, patner dari PT Humpus Trading dan ASI (sebuah perusahaan yang dikontrol putra mantan Presiden Soeharto, Tomy Soeharto). Humpus Trading beralamat Jl. Teuku Cik Ditiro No.56, Jakarta Pusat.

Jika Rudi benar terlibat dalam kasus penyuapan, apakah itu untuk masuk ke kantong pribadinya  atau bagian dari upaya untuk mendukung keuangan partai politik? Tentu, tidak ada sesuatu yang mustahil. Semua perusahaan yang terlibat dalam trading minyak di tanah air sangat erat kaitannya dengan kelompok politik.

Banyak sekali grup bisnis dan politik di negeri ini, yang ingin mendapat uang dengan mudah, sebagai broker dan tender untuk mendapat blok minyak dan gas. Kita paham bahwa KPK sudah banyak menangkap banyak politisi dan orang-orang penting. Rudi adalah salah satu elit di level atas yang sukses di tangkap KPK.

Siapa Rudi?

Rudi adalah, mantan Kepala Operasional BPMIGAS, sebelum menjadi Wakil Menteri ESDM. Sebelum di BPMIGAS, ia menjadi dosen Institut Teknologi Bandung (ITB ). Rudi adalah orang yang paling kritis dengan kasus Lumpur Lapindo yang melibatkan Group Bakrie. Ia terlibat dalam advokasi internasional tentang Lumpur Lapindo di Cape Town, Afrika Selatan tahun 2008.

Dalam kasus Lapindo, ia adalah ketua tim investigasi. Rudi mengatakan pada tahun 2007, Lapindo Brantas mengabaikan warning/peringatan dari Medco Energy, pengotrol 32 % saham Lapindo, sehingga menyebabkan luapan lumpur.

Rudi adalah saksi ahli yang dipanggil Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) untuk melawan pihak Lapindo Brantas dan pemerintah tahun 2007. Setelah bergabung ke BPMIGAS, Rudi diam terhadap Lapindo. Bahkan negara harus mengeluarkan anggaran besar untuk menalangi korban lumpur. (Tim Riset BHC)

LEAVE A REPLY