Vale Indonesia, salah satu produsen nikel terbesar di Indonesia belum juga menemukan titik terang dalam renegosiasi kontrak. Nilai pasar Vale (INCO) pada tahun ini cenderung turun. Market capitalization-nya mencapai Rp 17.69 triliun atau lebih kecil dari nilai equitas. Pada tahun 2008 silam, nilai pasar Vale sempat menyentuh US$10 miliar, tetapi sekarang turun.

[dropcap]V[/dropcap]ale mengontrol 59 % saham Vale Indonesia, 20,2 % dikontrol Sumitomo Corporation. Dengan demikian, kepemilikan asing di Vale Indonesia mencapai 80 %. UU No.4/2009, tentang mineral dan pertambangan, mengamanatkan agar perusahaan tambang asing yang sudah berproduksi di atas 10 tahun wajib mendivestasikan sahamnya ke pihak domestic. Pertanyannya adalah akankah Vale dan Sumitomo mendivestasikan sahamnya sebesar 39 % di Vale Indonesia?

Vale Indonesia adalah unit produksi nikel terbesar untuk Vale SA pada enam bulan pertama tahun 2013 dengan pendapatan sebesar 36.000 ton , lebih besar dari anak usaha Vale di pertambangan Sudbury di Kanada.

Vale Indonesia pada 6 bulan pertama tahun 2013 tumbuh 22% dibandingkan tahun 2012. Pendapatan perseroan terbesar berasal dari tambang nikel Sorowako, Sulawesi Selatan. Itulah sebabnya Indonesia sangat penting bagi Vale.  Namun, posisi Vale di Indonesia belumlah aman.

Masih banyak tekanan yang akan dialamatkan pada Vale;

  •      Royalti; pemerintah meminta kenaikan royalty dibandingkan saat ini
  •       Pemerintah daerah menuntut kepemilikan saham di Vale Indonesia.
  •       Dinamika industry nikel telah berubah secara substansial, termasuk pertumbuhan ekspensial ke Cina. Di masa lalu, Vale dan PT Anaka  Tambang Tbk hampir memonopoli industri nikel. Tetapi sekarang ceritanya lain, banyak sekali produsen nikel dari Morowali, Maluku dan Halmahera, mengekspor biji nikel di atas 40.000 ton per tahun. Pemain-pemainnya juga besar-besar, seperti Billy Group, Salim Group dan Harita Group.

Pada tahun 2013, penjualan nikel Vale untuk seluruh dunia pada Quartal ke-dua tahun 2013 mencapai 65.000 ton dan rata-rata harga 12.1 % untuk US$15.123 per matrik ton nikel pada tahun 2013 dari US$17.206 per matrik ton tahun 2012. Dengan demikian, pendapatan turun 9.3 % karena penurunan harga. (Tim Riset BHC)

LEAVE A REPLY