Setelah lama menghilang, keluarga cendana kini mulai menancapkan sayap-sayap-nya dalam dunia bisnis. Sity Hardianti Rukmana, yang kerap disapa Mbak Tutut, putri mantan Presiden Soeharto dikabarkan mendapat ratusan hektar tanah di pulau Dewata-Bali. Aset potensial itu akan digunakan untuk pengembangan hotel berbintang lima. Sementara, saudara Mbak Tutut,  Bambang Trihadmodjo adalah pemilik Inter Continental Hotel, yang berlokasi di Jimbaran, Bali.

[dropcap]P[/dropcap]ada akhir bulan Juli, 2013, Tutut telah mendivestasikan 29, 5% saham di PT Citra Marga Nusapala Tbk, sebuah operator jalan tol. Saudara Tutut lainnya, Sigit Harjojudanto, sebelumnya telah mendapat wilayah di Bali Cliff  Hotel, sebuah Dreamland, di mana Sosro Group membangun beberapa properti disekitarnya.

Sebagaimana diketahui, beberapa aset keluarga Soeharto telah berpindah tangan ke beberapa group pebisnis paska kejatuhan Soeharto. Dalam sengketa kepemilikan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI ) misalnya, Tutut berpolemik dengan Hary Tanoesoedibjo, pemiliki MNC Group. Sementara di Citra Marga Nusapala, Tutut masih memiliki pengaruh. Padahal, Hary Tanoe, masih mengontrol di atas 30 % saham di CMNP.

Mari kita kembali bicara soal aset Tutut di Bali. Tutut dalam pembicaraan dengan Waldorf Astoria dan Mandarin Oriental berencana mengembangkan 100-150 hektar tanah yang berlokasi diantara kompleks Nusa Dua Bali dan Bali Cliff. Lokasi itu kerap disebut Pandawa Beach dan Kutuh Beach. Pada saat ini harga tanah di wilayah Kutuh sebesar Rp 40 miliar per hektar. Dengan demikian, harga tanah Tutut senilai US$400 juta. Di wilayah itu Tutut akan membangunan hotel dan properti.

Pertanyaan penting yang muncul adalah apakah pihak bank masih bernafsu menyediakan dana untuk pembangunan hotel berbintang 5 di Bali? Pertanyaan ini penting untuk diajukan mengingat dalam pemahaman publik selama ini Tutut tak memiliki uang banyak dan mampu membiayai pembangunan hotel. Pertannyaan berikutnya, adalah mampukah Tutut berkompetisi dalam bisnis perhotelan di tanah air?

Kalayak di tanah air mengenal Waldrof Astoria dibawah Hilton Group telah menjadi brand  bisnis perhotelan di Jakarta. Brand Hilton sudah menyebar di beberapa daerah, seperti Bandung dan Bali. Di Bali, Hilton berlokasi di Nusa Dua.Pada akhir bulan Juli, 2013, Gulf Phillips , Wakil Presiden Hilton untuk Asia Pasific mengatakan, Hilton akan mengembangkan Waldrof Astoria dan Conrad di Jakarta dan Bali. Hilton Brand juga akan dibangun di Jakarta, Bali dan tempat lain.

Kompetisi antara hotel Bintang lima akan dimulai. Selama ini, dominasi Mulia Group memang memangkas kompetisi di bisnis perhotelan. Apalagi Mulia Group telah membuka resort di Nusa Dua Bali. Mulia akan membunuh pesaing bisnisnya dengan harga US$100 per malam dan St Regis (Peter Sondakh) US$400 per malam. Rencana Tutut membangun hotel bintang lima di Bali tentu akan berimplikasi pada Shangri-La resort yang dikontrol ANCORA Group (Gita Wirajawan/Menter Perdagangan). ANCORA mengontrol wilayah Amanusa Hotel (Awalnya dimiliki Tommy Soeharto ) di Nusa Dua.(Tim Riset BHC)

LEAVE A REPLY